
Kita itu seperti cerita-cerita di buku tua,
kisah cinta malu-malu yang terabaikan perhatian anak muda.
Cerita kuno yang menggambarkan susahnya membengkokkan takdir, mengatakan cinta.
Lagu lama, berirama ringan dan kadang teatrikal.
Perjalanan panjang menuju keyakinan dan penerimaan kekalahan logika.
Itu, setidaknya dari pihak saya.
Apa yang coba kita bangun, tidak terbatas pada mimpi satu dua hari.
Yang sedang kita lakukan adalah membentuk visi, pandangan yang jauh ke depan,
ke satu titik yang hanya Tuhan yang tahu.
Visi yang memang tidak melulu identik, tapi seirama.
Satu ketukan, satu harmoni.
Kita banyak bicara, tentang standar yang diharapkan dari pasangan,
tentang apa yang kita mau dalam satu hubungan.
Topik-topik yang menarik perhatian kamu, dan luput dari perhatian saya.
Lumrah, karena kamu mendalami detail, dan saya, mendalami kamu #gombal
Kamu tau, merah muda,
apa yang membuat kita bertahan itu hal yang absurd?
bahwa dua jam adalah ambang batas waktu terlama bagi saya untuk bisa berubah menjadi psikopat dan pontang-panting ngebut dari site, demi mencari kamu?
dan bahwa kamu disana, sedang duduk dengan manisnya, cantiknya.. punya siapa sih? ... *oke fokus..
kamu, yang dulu terus menerus bilang bahwa kamu Mpok Nori, sudah membuat saya jadi lengkap.
Bahagia itu, ada kamu.
Kita itu bukti dari ambivalensi yang saling melengkapi dan mentoleransi.
Saling melengkapi, meniadakan yang tidak perlu dipermasalahkan,
mengadakan apa yang semestinya diperbaharui, berkomitmen, demikian adanya,
kamu yang paling pintar mencari topik pembicaraan, dan saya yang selalu kehabisan topik,
dan kembali membahas itu-itu saja.
Beberapa topik membosankan, dan kadang sifatnya matematis.
Kamu yang egois, saya yang datang dengan intonasi pelan.
Kamu yang jadi pemarah dan saya sediakan tangan sebagai penadah tetes-tetes kesabaran.
Saya yang mendengarkan cerita kamu tentang pergerakan dunia sinetron,
Kamu, yang mendengarkan saya, bercerita tentang kata-kata dan diri saya.
Hal-hal sederhana, yang jadi lengkap, karena kamu, ambivalent kesayangan saya.
Seperti sinus 90 derajat, kita, bernilai satu.
dan seperti sinus 0 derajat, saya tanpa kamu, kosong. Nol.
Dan karena katanya pasangan itu bersifat saling melengkapi,
maka beginilah kita, merah muda,
kamu yang merasakan gejala sakit perutnya karena datang bulan,
saya yang demam dan sakit tenggorokan, dan batuk, dan pilek, dan pusing.
Dan kamu..
yang masih saya nanti seperti hujan pertama di bulan November..
bukti cinta #1867 ;
dari saya, untuk kamu.masih tetap, sebagaimana dulu.
tidak berubah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar