Tampilkan postingan dengan label 30 days of Kirana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 days of Kirana. Tampilkan semua postingan

Day 3O - still loving you


Love ever gives. Forgives outlives. And ever stands with open hands.
And while it lives, it gives. For this is love's prerogatives -- to give, and give, and give.
- John Oxenham -



Tentang kamu, yang masih saja dengan bodohnya saya cintai sedemikian rupa.
Catatan ke 30 dari rengekan saya tentang rindu.
Ceceran kata, yang bahkan tidak mungkin lagi punya arti.

--

Neng..
yang saya mau, hari ini,
neng bisa maafkan saya.
Untuk tulisan-tulisan ini,
untuk setiap kali saya mencoba menghubungi neng,
untuk kata-kata yang tidak menyenangkan, atau setiap perhatian yang tidak berdasar.
Maafkan ya?

Neng..
Neng pernah begitu istimewa buat saya.
Neng akan selalu jadi kebanggaan dalam hidup saya.
Di hati saya, di masa lalu saya, dan juga masa depan saya.
Satu hal yang penting disini adalah, bahwa neng sudah meninggalkan ribuan jejak di hidup saya.
Setiap perciknya, semua itu mengajarkan.
Semua bercaknya, saya syukuri.
Neng itu, luarbiasa artinya di hidup saya.
Terima kasih neng, cuma itu yang bisa dari saya.

Neng..
Kapanpun neng mau datang,
kapanpun neng butuh orang,
lelaki ini selalu ada demi semua itu.
Demi harga kebaikan yang belum saya lunasi.
Demi waktu yang neng berikan untuk saya belajar jadi lelaki yang lebih baik.
Disadari atau tidak, saya pelan-pelan merubah diri saya, dan itu berkat neng.
Setiap kemarahan neng pada saya, saya belajar cara untuk tenang.
Setiap kekecewaan neng,
saya diajari cara untuk menghibur.
Setiap keacuhan neng pada saya, saya belajar untuk sabar.
Setiap ketidakpekaan neng pada saya, saya diajari pula untuk tidak pendendam.
Dan untuk setiap ketidakhadiran itu, sampai saat ini, saya pun belajar jadi lelaki yang yakin, dan mau menerima.

Neng..
Betapa hebat fungsi neng buat saya,
jadi untuk enam tahun tiga bulan yang jatuh di hari ini,
30 November 2011,
saya ingin neng tahu satu hal,

bahagia ini lengkap, bukan karena cuma-cuma,
tapi karena ada neng, yang selalu bisa membuat saya merasa ada.

--

yang akan selalu dirindukan ;
Kirana Araya Putri,
perempuan dengan kanker rahimnya,
si waria, si mpok Nori,
dan ratu sinetron setiap jam 8 malam.
ain't, it's should be happier than this .. as love itself has find the way to come inside my heart ?
[ aku sayang kamu, mudah-mudahan aku ga akan pernah menyesalinya ]




Day 29


masih kukenang wajahmu,
meski lelah rajai langkah,
dan ragu kuliti beku ..





Day 28


With all my heart, and all my soul,
I will love you till the winds don't blow.
Until the oceans turn to stone, my love is yours and yours alone.
My love is forever, until forever's gone.
- Kenny Rogers -


--


so near .. but unreachable ..
so true .. but unseen ..


insieme per sempre
?
; together forever ?


--




Day 27



The sky is dark, so does my heart.
How about yours?
It onced belong to me
What about now?

Probably I should start packing,
My heart bleeds, and the blood wont stop
Probably It's time to go,
Do u really want me to part?
Will you miss me as much as i missed you?
Or you really have forgotten me,
As they told me.

If we can't make it last,
I always wonder why should we start?
If what i can get is just memories,
Why can't i just forget the sorrow?

If heaven doesn't want us to be together,
Why does it let you keep my heart?
If you dont love me that much to stay,
Why should you make me believe that you do?

--




Day 26


“ If we must part forever, give me but one kind word to think upon,
And please myself with, while my heart's breaking.”
- Thomas Otway -

Cerita kedua puluh enam dari tiga puluh pecahan rentet angka,
untuk kamu, merah muda, supaya kamu tahu kisahnya.
kisah saya, mencari kamu.
satu dari keempat kali, pencarian saya menuju kamu.
---

Cikutra, April 2011,
Matahari siang mulai turun, sedikit gerimis, laju sepeda motor dipercepat.
Vario biru, terburu-buru membelah jalan, menuju satu tempat yang biasanya biasa saja,
entah kenapa hari ini rasanya istimewa.
Seperti menunggu paket yang sudah lama dinanti.
Seperti mengejar sesuatu yang sudah berabad ditunggu.

Dinding makam pahlawan mulai tinggi terlihat,
rasanya tidak karuan, tidak karuan senang.
Mengetahui nanti disana mungkin ada dia, perempuan cantik dengan potongan rambut sebahu, anak pak Sunarya.
Pacar saya. Pacar saya satu satunya.
Cinta saya, cinta saya satu satunya.

Sudah mulai dekat, jalanan mulai menurun,
saya sudah bisa melihat orang lalu lalang dari jarak ini.
meski tidak tahu, rumah dia yang mana.
Saya berhenti, seperti habis bensin.
Saya menunggu orang-orang itu berbalik, menunjukkan wajahnya,
setengah mati berharap, mereka menjawab tentang kamu,
setengah mati berharap, mereka mengenali foto kamu,
dan setengah mati berdoa, saya tidak disini.
karena saya tidak menemukan apapun.
saya, gagal lagi.

Saya disadarkan hujan yang semakin deras,
dan mereka yang kemudian berlari mencari tempat teduh,
tampak bergandengan tangan,
masih terlihat begitu hangat,
menuju satu pohon yang lebih besar,
bersempit-sempitan dengan beberapa orang lainnya.

Dia, mimpi saya siang malam,
cinta saya satu satunya,
beranjak dari wartel, tampak lelah, dengan satu ingin yang kuat,
bertiga dengan dua sahabat saya, yang belum sempat saya ucapkan terima kasih,
mereka, yang begitu setia men-support saya, agar saya sampai bertemu kamu.

Nama saya Rizky Fauzy,
saya baru saja melewati tengah kota, dijebak hujan, diperangkap macet, dimaki-maki mama karena pergi tanpa ijin,
modal satu foto di handphone, dan satu jaket penuh kebasahan,
datang kemari, menjemput impian saya siang malam, gadis itu ; merah muda, Kirana.
Saya kemari, untuk melihat apa yang hilang dari saya.

Kami. Dia. Cinta.





Day 25


"I like not only to be loved, but also to be told that I am loved. I am not sure that you are of the same mind. But the realm of silence is large enough beyond the grave. This is the world of light and speech, and I shall take leave to tell you that you are very dear."
- George Eliot -

Semoga ini tidak berubah, kamu dan saya yang sedang menjanjikan itikad baik menjadi kita,
apa yang kita harapkan berdua, rancangan-rancangan dan draft rencana, sudah disusun rapi kan?
apa yang belum adalah realisasi, pelaksanaannya,
perwujudan kamu dan saya yang akan jadi satu, diikat dan disatukan di dunia,
meresmikan kamu, sebagai tulang rusuk saya yang hilang dulu, berpuluh tahun sebelum saya ada,
karena kamu sekarang, menempel disini , didekat jantung, menunggui kamu berdetak.
Ini tentang kamu merah muda,
orang yang saya rindu, setiap hari, belum berhenti.

Dunia paralel yang pernah kita bahas berdua, semoga memang ada,
karena disana saya berharap, tidak menyia-nyiakan waktu untuk kedua kali ,
dan saya bisa berhenti bertindak bodoh, kadang membuat kamu terluka, berkali-kali,
salah saya memang, itu murni kebodohan saya,
terimakasih ya , sudah mau memberi banyak kesempatan lagi setelah kata maaf.

Ini bukan tentang kamu yang cantik, bukan tentang kamu yang lembut dan sabar,
lebih kepada apa yang ada lebih jauh didalam, nah, yang disana,
bagian dari semua fragmen yang pernah kamu simpan sendirian, lalu satu persatu kamu bagikan dengan saya,
kita pegang berdua, milik kamu sekarang jadi bagian dari milik saya.
Dan apa yang tidak pernah saya ungkap ke dunia, sekarang pun sudah kamu pegang sebagian.
Lebih banyak hari untuk kita bagi berdua,
dan ternyata masih banyak cerita yang belum saya serahkan pada kamu,
begitu juga sebaliknya.

Kamu untuk kita, saya untuk kita, komitmen yang samar-samar tanpa ikatan,
entah apa ini namanya, tapi jelas lebih dari sebutan formal, kamu sudah pegang setengah dari saya,
bahkan mungkin lebih.

: kamu kangen gak?
pertanyaan kamu, ini saya jawab,
bahwa saya, dua puluh empat jam saya hidup setiap harinya,
melihat semua yang bergerak dan diam disini,
manusia dan mesin, gerak angin dan semu awan,
tapi bukan itu yang jadi fokus saya,
karena kamu, mayoritas jam di dua puluh empat jam itu, ada kamu.

Kamu tidur, saya menunggui kamu bangun,
kamu makan, saya senang dengar kamu bicara dengan mulut setengah penuh,
lalu kamu tertawa dari ujung telepon saya , best of the day.

Sampai saat ini, keinginan saya belum berubah.
adalah saya, yang ingin merasai setiap sedih yang ada pada kamu,
menyaksikan deretan gigi waktu kamu tertawa,
ataupun menatap masa depan lewat mata kamu yang selalu berbinar-binar.
sederhana ya?
satu yang pasti, kedatangan saya bukan sekedar untuk menakut-nakuti kamu,
ini untuk memastikan semuanya, tentang kamu, tentang kita,
tentang ukuran cincin yang pas di jari manismu,
kamu, satu untuk saya,
karena satu kata : iya, akan mengubah segalanya.

--

vina panduwinata - aku makin cinta




Day 24


Hari ke dua puluh empat,
menuju epilog tiga puluh hari, yang saya janjikan untuk kamu.
Merah muda, kirana.

Ini jumat.
seperti biasa, tidak ada hari yang saya anak tirikan.
tak ada hal yang perlu diperdebatkan.
tidak ada wangi hujan, meski ini sedang musimnya.
dan sejatinya, di jam-jam seperti ini saya pulang untuk makan.
bertemu mama saya, ayah saya, dan si bungsu.
tapi tidak.

Saya lebih memilih untuk mengunjungi kamu,
disini.
memandangi foto kamu di pojok kanan.
saya, cuma bisa diam.
memaku.
rasa-rasanya begitu ingin, membisiki telinga kananmu lagi,
seperti kali yang pertama ;
aku sayang kamu.

Jam tangan saya berhenti di angka sebelas lewat seperempat.
masih sore untuk pulang.
biasanya ada kamu, dulu, yang mengingatkan saya ini itu.
saya lupa, kamu sudah tidak disini lagi, sekedar mengingatkan saya untuk tidak tertidur larut.
ataupun saya, yang setidaknya selalu mengabari kamu yang mulai rewel, ketika resah tak ada sms.

Kamu, merah muda,
sudah tidur?
masih boleh, saya mendongeng di atas keningmu seperti dulu?
tentang puteri tidur dan pangeran kodok?
tentang Aphrodite dan Ares?
tentang percintaan May dengan Gibran?
atau jangan-jangan kamu meminta saya untuk menggubahnya sendiri?

Baik,
saya kabulkan.
untuk kamu saja,
dongeng tentang kita,
kamu dan saya,
kamu, si baik hati.
dan saya, si hitam pekat.

sini, sandarkan kepalamu?
sebagaimana manjanya kamu dulu pada saya.
karena saya akan menceritakan itu,
dinamika rasanya bahagia,
sambil merasakan udara yang pasang surut, mengejar kamu berlari.
tutup matanya satu-satu, sayang,
selimut ini menanti pelukan tanganmu dari siang.

--
merah muda,
apa yang sudah terjadi dengan kamu, di masa lalu,
dan saya, di beberapa waktu lalu, itulah yang membawa kita sekarang,
di era kita berdua.
rasanya waktu seperti berhenti, hanya untuk memperhatikan saya.
saya, yang sering senyum sendiri di depan kaca,
dan mulai memperhatikan bentuk badan yang lebar kesamping.

Lucu ya?
sejauh itu, tapi rasanya sedekat ini.

Kamu, yang harus saya tempuh lewat jaringan satelit,
sinyal yang selalu jadi andalan, untuk saya mencari kamu,
karena satu media saja tidak cukup.

Kamu itu apa saya?
kita ini apa?
begini, saya ceritakan apa yang susah saya ucapkan ;
kamu itu, bagian dari rancangan masa depan saya,
kamu itu, tempat saya akan selalu pulang,
dan kamu itu,
rasanya dekat disini,
di hati.

Sejarah kita, mulai dari sekarang, mestinya berbeda.
karena pagi lebih cerah, malam juga menyenangkan.
karena katanya, setiap pagi, saya sedang menyaksikan anak kakatua bangun tidur,
memanggil-manggil nama saya dengan merdu,
apa lagi yang mungkin saya mau?
selain gadis cantik bangun tidur, dan mencari-cari saya, dengan siulan manisnya.


;
selamat menyemai mimpi,
untuk kamu,
yang tetap cantik waktu tidur,

merah muda.

i madly in love,
with you ..
yes,
i do ..

--

: krisdayanti - mencintaimu




Day 23


ajari aku bermimpi,
seperti mimpi kanak-kanakku tentang ksatria berbaju zirah mengendarai kuda putih,
yang kemudian datang membebaskanmu dari belitan penyihir jahat
untuk kemudian terbang bersama-sama menuju pelangi keabadian

ajari aku bermimpi,
seperti mimpi masa remajaku tentang apa itu cinta sejati
sesosok perempuan dengan senyum secerah matahari
yang mengenakan tudung kebaikan hati, dan baju kerendahan hati
sosok perempuan dimana aku tahu, akan kuhabiskan masa tuaku bersamanya

ajari aku, untuk bermimpi ..

Day 22


Untuk merah mudaku ;
si pemarah, si manja, si mpok nori.
si acuh, si sulung, si cantik.

Hei neng,
apa kabar?
Kapan terakhir kita bicara?

Hari ini saya bongkar-bongkar kamar di rumah.
Lumayan juga.
Capek disertai bersin selama setengah jam tanpa putus.
Ada kartu m3 saya diantara tumpukan foto waktu SMA dulu.
Kartu telephone yang saya simpan selama tiga tahun lebih.
Terakhir kali kartu ini ada di kolong kasur,
yang kemudian ditemukan mama, diteruskan di atas album foto, dan albumnya saya simpan di laci.

Tiga tahun lalu, di kamar itu,
dengan latar dinding ber-cat putih gading.
Kamar tempat kita berceloteh banyak hal,
tempat kita beradu obsesi dan ego,
tempat dimana kamu marahi saya, karena saya terlambat membangunkan kamu diseka.
tempat, waktu kamu mengeluh panjang tentang rasanya bosan meminum puluhan obat setiap hari.
Kamu,
yang slalu tahu, bagaimana cara mencintai saya.
Kamu,
yang slalu mampu membuat saya khawatir dan tertawa di saat bersamaan.

Hari terus berjalan ya neng?
Seperti yang selalu dikatakan oleh mama, tidak bisa diulang mundur.
kesalahan semakin bertumpuk.
dan saya masih hidup dalam dosa.

Tahun berganti tahun,
harusnya kita makin dewasa.
teman saya bahkan bilang, saya membosankan.
Lebih peka dan sensitif sekali.
Saya sedih.
Ingat kamu setiap hari.

Mungkin saya belum makin dewasa, walau saya bertambah tua.
Melapuk dan meranggas.
Diganti musim, diganti daun.
Tapi akarnya, tidak berubah.
Yang saya serap semakin dalam, adalah ingatan akan apa yang sudah kita lewati selama ini.

Dulu, saya selalu menunggui kamu menghubungi saya,
sambil memainkan lagu-lagu bertemakan rindu dan membuatkan kata-kata cinta untuk kamu nantinya.
Pernah, menunda makan siang saya.
Menunda tidur malam saya.
Mengurangi rokok banyak-banyak.
Mengencangkan ikat pinggang, untuk kita lebih punya banyak waktu.
Enam tahun berjalan sejak hari itu.

Mama selalu bilang,
orang makin tua, bukan makin muda.
Harus lebih hati-hati melangkah, lebih tahu prioritas, lebih luas memandang sekeliling.
Karena nantinya yang tersisa itu cuma cerita.
Cerita waktu kita muda, cerita yang akan berulang-ulang disampaikan dengan pilihan, kebanggaan, ataupun rasa malu.

Mau sampai kapan nunggu neng?
Lebih baik cari perempuan lagi?
Neng sakitan lho?
Sampai disana, biasanya saya akan berhenti mendengarkan, dan mulai merekap ulang apa yang pernah saya lihat, jauh kebelakang.
Saat itu hati saya, masih batu.

Sekarang neng,
semuanya tidak penting lagi.
Semua yang saya lihat, sudah jadi sejarah yang ingin saya lepas satu-satu.

Saya melihat kamu berubah,
pelan, tapi pasti.
Hari ke minggu.
Bulan ke bulan.
Memberi saya pelajaran, bahwa prioritas adalah hidup dan masa depan.
Diatas semuanya, menebas badai, melawan tatanan, sindiran dan olok-olok, hanya untuk orang yang kita sayang.
Untuk itu saya bersyukur.
Karena saya pernah melewati semua itu dengan kamu.
Terima kasih :)

Apa yang ingin saya katakan adalah apa yang jarang kamu dengar selama ini.
Entah dari mulut saya, tindakan saya,
atau dari frekuensi saya menelpon kamu dan kita bicara.
Saya sayang kamu.
Dan tidak ada sejarah, atau buku diktat lain yang bisa menyangkal bahwa kita punya penyakit yang sama.
Pelupa dan sedikit malas

: cari perempuan yang lebih baik, sayangi baik-baik.
Neng berdoa, supaya kamu dapat perempuan yang lebih segala-galanya dari neng.

Neng, ibarat catur, ster nya sudah dimakan lawan.
Saya cuma punya beberapa pion, dan jalan masih panjang.

Jadi neng,
untuk semua yang terjadi,
yang kamu ketahui dan tidak kamu ketahui,
saya, lelaki kecil yang canggung ini,
meminta maaf, dan menyatakan rindu,

ingin bertemu.

Day 21


hanya lara yang bercakap
tentang sebuah hati yang mengabu
tentang aku
tentang kamu di sana

aku rindu,
tapi tak kuasa ..

Day 20


kamu benar,
suatu hari aku akan tersenyum melihat setiap kebodohan kita ..

Day 19


ini bukan hanya pagi
bukan hanya siang
bukan hanya malam
bukan hanya terang
bukan hanya gelap

ini tentang kita,
yang hancur dimakan masa

Day 18


Catatan ke-18,
dan masih tentang kamu.
Perempuan yang selalu mengerti, bahwa hidup adalah tentang cara bertahan yang baik.
Perempuan yang kadang lupa, bahwa manusia dilahirkan dengan cela masing-masing.
Perempuan yang harusnya paham, bahwa bahagia itu bermula dari hati.

Karena kamu pernah disana.
Mencungkil hati saya.
Enam tahun dari ini.
Begitu luarbiasa dan mengagumkan.
Begitu hangat, dan buat saya tidur.
Begitu sederhana, sampai dunia saya jatuh.

Salahkan saya.
Untuk setiap kata-kata yang harusnya dituntaskan di hari itu.
Bahwa tidak seharusnya kata dibalut kata.
Janji diikat janji.
Harusnya lurus.
Begitu saja.

Sampai langit siang itu,
yang terkekeh mendung tanpa hujan,
meyakini saya kalau kamu wadah.
Tempat saya menumpahkan hidup.
Diserapnya lagi, menguap satu-satu jadi cerita.
Time has touched the Old Man.
Mungkin begitu judul nantinya.
Sampai punggung saya bungkuk.
Sampai uban jadi canda.
Penyakit pikun di tempat makan.
Dan puluhan pil anti jantung yang terpampang di meja rias.
Nanti, tujuh puluh tahunan umur saya.

Karena dulu,
saya demikian cinta kamu.
Karena dulu,
saya menginginkan kamu untuk selamanya dengan saya.
Karena dulu,
tidak ada yang mampu dengan tepat mengajarkan saya makna berdua.
Tentang kelapangan, kesabaran, kerelaan, dan arti setia pada hati.

Untuk itu cerita ini saya tulis.
Beberapa lembar puisi dan mimpi, yang kelak dibaca silindris kacamata.
Lembaran prosa dan kata,
yang nanti saya coba eja dengan senyum.
dengan tawa.
semoga bukan luka.

Memoar satu masa,
tentang cerita,
tentang cinta,
yang tersaput kembang gula.

Kadang sedih,
kadang pilu,
mungkin juga rindu.

siapa tahu :)

Day 17


Banyak yang ingin saya ceritakan tentang beberapa hari belakangan kepada kamu,
tentang kejadian sehari hari, seperti biasa dulu kita bicara.
Mestinya hari ini saya mengerjakan beberapa posting harian,
dan karena itulah saya ada, dan duduk di ruangan ber AC ini,
mengerjakan posting untuk hari ke-17 yang saya janjikan.
Dan, tidak mengerjakan, tapi malah sibuk membuat coret-coret di kertas bekas,
sepertinya sudah menjadi cara pengalihan yang baik untuk membentuk batasan fokus saya lagi.
Fokus yang sudah beberapa minggu, atau bulan, tidak bisa saya jalani.
Dan itu membuat hidup melenceng kesana kemari.
seperti isi paragraf ini.
tidak jelas.

Saya ingat, kita dulu pernah bermimpi, berangan-angan, dan menggambar bersama,
dari mulai anak ayam, sampai dinosaurus,
dan itu menyenangkan :)
salah satu dari hari-hari terbaik dalam hidup saya,
adalah ketika ada kamu.

Sejauh ini, saya masih belum paham benar dengan tujuan saya ada di dunia.
Sepertinya misi yang dibangun dari awal sudah gagal di tengah jalan,
karena mungkin bukan begini rancangan awal dari keberadaan saya disini.
Mungkin, misinya sudah dibiarkan saja melantur,
karena pengemban misinya juga sudah dinilai melantur.

Saya memandang angka-angka,
saya melihat tulisan, alfabet, dan tabel,
semuanya buram,
saya memencet tombol minimize di kanan,
dan hasilnya adalah gambar merah-kuning-dan biru.
ada kamu,
dalam latar lelaki kecil di depannya,
kurang lebih, seperti itulah saya.
cukup, walau hanya puas memandangi.

semalam saya bermimpi,
bukan semalam,
baiklah, saya jujur.
tiap malam seingat saya,
sekilas saya bermimpi, atau terbayang, entah, saya sudah tidak tahu bedanya.
Tentang kamu,
dan saya.
Tentang kita yang duduk bersebelahan.
Tentang saya yang menyandarkan kepala saya di lutut kamu.
Dan tentang kamu, yang duduk tersenyum di ujung ruangan.

Banyak yang sudah kamu lewatkan disana.
Waktu, dan juga hari-hari kita merancang dengan suka cita.

Ya,
mungkin benar apa kata mereka..
semua itu memang tidak akan terjadi di dunia nyata,

saya paham :)

Day 16


dia bawa segenggam harapan
sore itu,
melalui telepon jarak jauh,
melalui pesan satelit,
dia bawakan aku hadiah,
segenggam harapan,

tentang cinta,
masa depan,
dan arti rasanya bahagia,

dia bawakan aku segenggam harapan
sore itu,
lewat telepon jarak jauh,
lewat pesan satelit,
setoples kenangan,
dan sekarung besar penantian

Day 15



Tentang kamu, untuk kamu,
gadis yang pertama kali membuat saya merindu seperti ini.
Jarak saya dari kamu, ratusan kilometer jauhnya,
bahkan google earth gagal melacak jarak kita.
Jarak persisnya, saya tidak tahu.
Setidaknya belum, demikian kesimpulan sementaranya.

Kita berjalan cepat, melambat, bergerak lebih cepat,
lalu tiba-tiba kamu, melihat saya, tertinggal di belakang,
saya menyadarinya, hanya tidak mampu bicara.

Sebab apa yang kita punya ini tidak biasa,
akarnya dari kamu dan saya yang sama-sama tidak biasa,
dari apa yang sudah kita bangun beberapa tahun terakhir.
Pembicaraan sana-sini,
pembahasan panjang,
dan beberapa perdebatan ringan,
kamu dan saya,
pernah mempertanyakan kita.

Tentang orang yang dalam terjemahan bebas 'the crush' diartikan taksiran,
seperti lukisan atau benda seni bernilai tinggi.
Demikian bahasa ibu kita mengibaratkan kamu.
Taksiran saya sejak beberapa tahun lewat,
taksiran yang sedang didalami, didiami, dan dijalani,
taksiran yang rasanya sudah siap saya tebus harganya.
Untuk kamu, untuk saya, untuk kita.

Merah muda,
apa yang pernah saya minta dari kamu?
apa yang kamu tahu dari apa yang saya ingini dari kamu?
apa lagi, selain kamu sembuh dan bahagia?
dengan saya, atau bukan dengan saya.

Kamu, yang paling istimewa.
Kamu, alasan saya menempa diri sekarang untuk jadi seperti apa yang kamu perlukan.
Saya ingin, bukan lagi menjadi tentara kalah perang, tapi jadi tentara siap perang,
untuk kamu, untuk kita,
dan mungkin untuk apa yang dibentangkan Allah di depan mata.

Karena apa yang ada di kepala saya saat ini kapasitasnya sedikit,
dan sekarang makin sedikit sisanya.
Hampir penuh, semuanya tentang kamu,
hari ke hari, saya makin tidak bisa mengelak.
Kamu, sudah membuat sabotase perlahan-lahan.

Kamu, mengubah saya,
pelan, tapi pasti, kamu mengubah saya.
Membawa saya maju, sabar menunggui kamu, berusaha maksimal seperti saya,
mendengar cerita bodoh saya,
menertawakan lelucon-lelucon hambar saya,
mengerti saya sepenuhnya,
memberikan apa yang paling berharga dari saya untuk kamu,
hati saya, untuk kamu.
saya sayang kamu,
terhitung 30 agustus 2005,
itu yang selalu saya ingat.

Merah muda,
sejauh-jauhnya saya pergi dan berusaha lari,
kamu, menarik saya jauh didalamnya.
Karena ini tentang kamu,
gadis yang jutaan tahun lalu mungkin pernah berdampingan dengan saya di surga Eden.
Tercipta berdua, sebagai gugus bintang waktu bulan sedang sendiri.
Melihat musim berganti, daun bertumbuh, dinosaurus punah, dan belanda datang.

Kamu, yang sekarang berpikir sambil membaca ini dua kali karena terlalu panjang,
iya, kamu, merah muda,
aku sayang kamu,
satu, cuma kamu.

Day 14

Kalau ada lima detik yang terasa begitu lama,
seperti seharian, itulah saatnya.
Ketika saya jadi patung beku, dia gula cair.

Yang selanjutnya terjadi adalah,
dia tersenyum disana.
mungkin kalau bisa saya saksikan,
barangkali itulah senyum paling manis,
yang pernah saya lihat dari bibir seorang perempuan muda.
Mungkin selanjutnya saya harus segera meluncur ke Prodia, sekedar cek gula darah, dan melihat 'pemandangan' yang ada disana.
*oke fokus.
maksudnya tadi adalah,
akhirnya dia menjawab,
jawaban yang saya nantikan,
melangkah delapan belas hari dari kata pertama,
12 Agustus 2005.

Ya, hari itu dia menjawab.
Jawaban yang ditunggu-tunggu.
Yang saya rancang dengan berbagai skenario,
sebelum akhirnya saya inisiasi sore itu.
Semua diluar rencana, dia bilang dengan sederhana dan singkat,
dengan kata-kata pasti,
walau sekedar sms pendek.
dia bilang : 'neng juga sayang, neng mau.. Kamu bisa janji, sayang sama neng dan bakal terima neng yang sakitan begini?'
Saya, sebagai laki-laki yang tingkat kecerdasannya sedang didorong jauh oleh endorfin,
dengan bodoh,
saya bilang : aku janji.

Hari itu, sempat jadi hari terindah dalam hidup saya.
Dimana sepanjang jalan, saya tidak berhenti tersenyum,
dimana setiap orang dirumah (kecuali ayah saya yang tidak ada), saya peluk peluk,
dimana teman-teman yang bertemu saya hari itu, saya senyumi dengan manisnya,
bahkan satu hari setelah itu, beberapa anak jalanan saya beri uang seribuan,
dan dengan suksesnya, saya lupa minta gaji.

Alamat malam minggu kelabu.
Pulsa nol perak.
Setepu dua tepu rekapan harian.
Cukup, untuk paket sms senilai goceng.

Tapi untuk perempuan seluarbiasa dia,
semua pengorbanan itu, lunas harganya.

:)
:)


--

dinikmati dan disimpan,
selamanya ;
selasa, 30 Agustus 2005.
jam 2 siang, lewat 23 menit.
' Kirana Araya Putri '


# playing :
Savage Garden - I Knew I Loved You

Day 13



Ceritanya, hari ini saya bolak-balik kesana-kemari.
Banyak sekali ruangan yang harus saya bersihkan.
Di masing-masing tempat, sudah menunggu sapu dan lap untuk saya pakai.
Orang-orang penasaran, memperhatikan saya dari jauh.
Lalu lintas di depan jalan, ramai lancar kalau kata penyiar radio.

Semua kerjaan selesai pukul 11 tadi.
Saya belum makan.
Dan seperti biasa, saya makan di warung seberang jalan.
Warung kecil, masakan rumahan, kopi hitam, rokok dua batang.
Sudah sama belum, dengan menu khas penarik angkutan kota?

--

Saya mengobrol sebentar,
bicara ini itu,
berakhir dengan mulut menguap.

Satu demi satu, orang-orang pergi.
Saya menuju kamar.
Kembali ke muara saya.
Kolam dimana saya hidup belakangan ini.

Lima menit pertama,
saya ngantuk luar biasa,
dan seperti yang disarankan oleh rambu lalu lintas,
'ngantuk? istirahat di pinggir'
Maka saya menyandarkan kepala ke dinding keramik,
memasang kipas dan mengecilkan volume mp3.

Tidur.
Selama hampir satu jam.

--

teman SMA saya sms,
menanyakan kabar kesehatan.
Saya baru balas setelah bangun.
Saya bangun dengan perasaan tidak enak.
Seperti ada yang tidak baik,
seperti ada yang salah,
seperti ada yang kurang,
tapi apa?

Saya berdiri,
beranjak menemui teman maya saya, warnet.
Menyetel sebatang rokok sisa,
sebelum dua jam lagi turun hujan di tempat ini.

--

Jadi disinilah saya.
Masih dengan setelan kaos hitam dan celana putih.
Masih dengan topi adidas terpasang.
Menulis, untuk mendamaikan diri sebisa mungkin.
Merokok, untuk menyuci hamakan ruangan.
Minum air banyak-banyak,
karena haus..

Merindukan kamu, merah muda..
Karena gelap hidup saya,
bukan abu-abu.

Day 12


Butuh jeda waktu 24 jam sebelum saya sampai disini.
Ke titik dua belas dari tigapuluh batu yang harus saya daki ke atas.
Titik dua belas, tentang orang yang ingin saya temui.
Secepatnya, atau kapanpun itu memungkinkan.
Orang yang bahkan bayangannya saja belum pernah saya tahu seberapa gelap, atau terang.
Dia, yang senyumnya cuma pernah saya lihat berkali-kali di dua tempat berbeda.
Di handphone, dan di layar monitor ini.
Ini catatan tentang kamu.
Hari ke dua belas.
Perempuan tercantik yang datang di ujung Agustus, enam tahun lalu.

Kirana, atau yang biasa tersebut disini merah muda ;
Yang belum pernah saya lihat wujud fisiknya.
Senyum, bicara, bergerak, berjalan, makan, apapun itu.
Saya mau lihat kamu.
Sekali saja.

Kamu tahu, lelaki ini tumbuh dibesarkan dengan seribu tanda tanya.
Berpindah cerita, setiap kali teman-temannya ingin tahu.
Menetap, di hati mereka, di sudut memori tentang seorang saya.
Yang lagi-lagi, mereka berhasil jabarkan,
selalu bisa mencintai kamu dengan cara yang hebat dan sama pintarnya.

Figur perempuan yang dia cari, dia bentuk sendiri.
Dari website bacaan, dari setumpukan novel, film, lagu, sampai kolase cerita perempuan masa kini.
Dia slalu mencari kamu, berusaha mengunjungi kamu, di tempat manapun kamu terjatuh.
Apa yang dia mau, masih sama, melihat kamu, dan mendengar kamu.

Jadi inilah dia, kamu orangnya.
Saya ingin bertemu.
Untuk berterima kasih, telah memberikan kepada saya soneta sebelum saya tidur.
Untuk membiarkan saya belajar dan dewasa dengan cara saya sendiri.
Entah kamu lihat atau tidak, tapi semakin hari, raut wajahnya mulai kelelahan.
Apa yang di potret itu, gambar perempuan itu,
perempuan yang berkali-kali menyebut dirinya mpok Nori,
tiga per empat hari-harinya dia habiskan untuk mengenang perempuan itu, sambil sesekali meminta pada TuhanNya Yang Maha Pemurah.

Semua tentang kamu, secara kasat,
ada di limapuluh persen hidup saya saat ini.
Entah di bagian mana, entah di sisi sebelah mana, tapi saya tahu kamu duduk disini.
Di dekat tulang rusuk, berdetak teratur,
rutin, ada disana.
kamu, adalah bagian yang hilang dari hari-hari saya sekarang.
Tidak ada disana lagi, ketika saya butuh teman bicara malam-malam.
Kamu, yang hilang moment ketika saya merenung kosong di depan jalan.
Kamu, yang entah dimana sekarang ketika saya mencari kamu saat ini.

Kamu,
yang belum saya tatap matanya,
tapi saya sayangi setengah mati,


saya rindu.

Day 11th



You speak my name in a prelude,
in a reference to love,
with such loving attitude,
as if it were a message from above.

With the palms of your hands pressed firmly against mine,
a white doves lands, and the sun begins to shine.

Someday I will see, though that day has not come yet.
You'll say you love me, but will you ever forget?

If that happens and my spirit dies,
if my emotions drop,
will you want to hold me when I cry?
Or will the love just suddenly stop?

We can't expect to fall in love and never cry.

---

merah muda,
ada beberapa hal yang kamu belum tahu tentang saya,
tentang kebiasaan saya, dan kegiatan rahasia menulis ini dibelakang kamu.

kamu, tersebut hampir di tiap lembar
dan terpasang jika bolpoint hitam itu saya gerakkan selama 25 menit.

kamu,
ada di mana-mana di dunia saya.
dan saya teramat senang.

satu, dua kali,
saya pernah berpikir tentang kita,
disela-sela melamunkan rancangan, dan mulai menggores-gores ke kertas putih tak bersalah.
tentu saja, memikirkan kamu.

saya dulu seperti anak dalam gambar itu,
berkhayal mengelilingi dunia, berusaha menjengkali tanah,
mengukur jarak dari rumah ke benua lain.
ingin bebas, tak begitu peduli apa jadinya besok,
garis besarnya, saya tidak berencana menetap di satu kota manapun,
selain kota ini
nanti, jika saya sudah harus memakai kursi roda dan pispot.

hanya butuh enam tahun,
untuk mengubah pikiran saya,
menjadi satu ide solid,

gambaran kamu dan saya,

tentu tak akan seperti cinderella,
karena saya bukan pangeran, dan cinderella pun kalah cantik dengan kamu.

hanya satu rumah biasa,
tak terlalu besar,
dengan kolam ikan dibelakangnya,
sembari duduk, kita melihat taman dengan bunga anggrek kesukaan kamu.
lalu akan ada makhluk kecil berkeliaran, dan kamu sibuk menjauhkan mereka dari kolam ikan, agar supaya baju mereka tidak basah oleh cipratan air.

kamu dan saya.
kamu,
dan saya,

Kirana Araya Putri,
dan Rizky Fauzy.

itu saja.


---