Tampilkan postingan dengan label two us. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label two us. Tampilkan semua postingan

the sleep


Whiskey, whiskey, whiskey
Water, water, water
Sleep
Whiskey, whiskey, whiskey
Wake up, shake it off And repeat
- John Mayer, Whiskey, whiskey, whiskey -




--


“Karena cinta sama kamu itu gak gampang”
Dialog pertama yang ada sejak semalam berselang.
Semalam.
What the hell happened?

Demikian pikir laki-laki itu, yang walau dalam kepalanya ada puluhan pertanyaan retoris bodoh,
tetap saja bergerak memunguti satu demi satu pakaiannya di lantai.
Di lantai, di sandaran kasur lipat, di atas meja TV.
Yang terjadi semalam adalah kekacauan.
“Kamu kalo ditanya sebenernya bisa jawab enggak sih?”
Perempuan itu mendongakkan kepalanya dari bantal.
Masih tertelungkup, dia bergerak memiringkan badan.
Berusaha menutup beberapa bagian dari tubuh telanjangnya.

“Kamu mau aku bilang apa?”
Sambil berpakaian, laki-laki itu melihat perempuan yang semalam, dengan segala daya upaya, kekhilafan, dan dorongan naluri, telah dibawa bersama ke surga dosa.
Dosa.
“Why did you have to be so calm against anything?, talk to me, mad to me, be angry John, for God sake!”

Masih dalam pose miring di tempat tidur.
Masih dalam gaun besar yang bernama selimut.
Perempuan itu mencari jawaban.
“What you want me to say?” Laki-laki itu kini mulai memasang ikat pinggang.
Berusaha tampil seperti semalam, sebelum jam sebelas.
Sebelum dia ke flat ini. Sebelum dia tergerak untuk menuju kemari.
Sebelum dia merasa butuh untuk bertemu dengan perempuan ini.
Kalau bisa, ke hari jauh sebelum dia kenal perempuan ini.
Ke hari yang masih masuk kategori ‘baik-baik saja’.

“Well.. say anything. be angry. i don’t know, grab my arm, shake me, ask something that you want to know about anything, about me, things.. just don’t go.”
Perempuan itu sudah setengah menyerah sepertinya.
Membuka bisu laki-laki yang diakuinya cinta kepadanya, untuk mempertanyakan situasi yang terjadi.
Tentang mengapa, apa, siapa, dimana, dan dengan siapa saja, perempuan itu pernah cinta, masih cinta, atau apapun.
Dia butuh dialog. Penyelesaian.

Laki-laki itu berdiri. Mendekati perempuan itu.
Memasang kacamatanya. Mendekati perempuan itu. Sampai sangat dekat.
Dua pasang mata, dan satu kaca mata, saling pandang.
Laki-laki itu tidak berusaha melakukan kontak fisik apapun.
Walau di dalam kepalanya, ada ratusan skenario soal memegang tangan perempuan itu, mencium tangan perempuan itu, lalu dagunya, lalu hidungnya, lalu dahinya, matanya.. arrggh.
Mungkin memegang ujung rambut ikal kecoklatannya.
Mungkin membenahi letak selimut yang jatuh berantakan.
Cantiknya dia, dalam hati.
Dalam jarak yang dekat. Dengan posisi kaki yang berlutut, yang mungkin disangka tujuannya adalah untuk menyamakan tinggi pandangan, padahal itu adalah gesture dasar dari laki-laki itu untuk memohon.
Things she’ll never know.
Then he slowly ask; “Do you love me?”
Ada sunyi yang panjang.
Sunyi yang kalo dimetaforakan secara berlebihan bisa dikatakan tipe sunyi yang bisa membunuh semua nyamuk di afrika.
Laki-laki itu bangun. Berdiri tegak. Merapikan kacamatanya.
Bergerak kearah pintu keluar.

“John, please.. this isn’t needed.”
Perempuan itu bangkit dari tempat tidur.
Sekarang setelah dia berdiri, ada dua lajur hitam, sungai maskara.
“I have to. This have to. It’s okay.. You’ll be okay..”
Laki-laki itu membuka pintu. Menutupnya kembali. Lalu berjalan ke arah tangga.
Menuju lantai dasar.
Di anak tangga ke sepuluh. Dia terduduk.

Laki-laki tidak menangis.
Kalau kami kehilangan, kami akan cuma jadi berlubang.

: Dia tidak cinta.
Mungkin tidak pernah.
Mungkin enam bulan yang lalu itu cuma antusiasme.
Mungkin cuma semacam generosity dari perempuan itu.
Because in her hesitation, He found the answer.

an end, from what never has happened, at least for her. —



thirty me, forever you



"Loneliness evaporated off of them like the steam of dry ice, and by morning it was just a cloud on the ceiling of the room, then gone with the light "
  - Christopher Moore, A Dirty Job. -





--

Kepada yang terhormat,
(calon) teman serumah di masa depan.
Ini adalah kontrak yang saya tulis satu dekade sebelum kita sepakat untuk mengerti bahwa kondisinya adalah begini.
Saya begini. Kamu begini.
Saya sendiri. Kamu sendiri.
Begini yang dalam arti saling sendiri. Tanpa ada yang bisa diajak saling berbagi.


Kontrak ini bukan kontrak mati.
Terlebih lagi, bukan kontrak sehidup semati.
Kamu adalah teman, dan saya adalah teman,
yang kita bagi hanyalah ruang.
Komunal adalah posisi dimana kita sepakat untuk menjadi bersama, pada suatu sore, atau pada suatu pagi,
dimana saya mungkin perlu makan di suatu meja, dan kamu perlu entah menulis atau bagaimana di sisi meja yang lainnya.


Kontrak ini adalah perjanjian,
bahwa pada umur saya yang ke empat puluh, dengan ‘begini’ yang sudah dijelaskan diatas tadi,
dan umur kamu yang entah ke berapa, membuat satu sama lain dari kita sepakat, untuk beratap dibawah jajaran genteng yang sama.
Saling membantu sebagai makhluk sosial, untuk tetap menjadi makhluk sosial, dengan memiliki teman untuk bersosialisasi, ketika nyatanya, ditakdirkan hidup sendiri.


Surat ini ditulis, bukan dalam konotasi deskriptif yang ngawur dan setengah mimpi.
Ini adalah harapan. Sekaligus batasan.
Bahwa empat puluh adalah angkanya. Batas usia.
Katanya, itu adalah batas dimana manusia perlu untuk punya semacam keluarga, atau bagi kita ‘keluarga’.
Homo sapiens. Yang saling dorong dan pacu dalam ide dan gagasan.
Kadang saya akan jadi sosialis. Mungkin kamu bisa jadi liberalis.
Tapi pasti, kita tak akan jadi mentalis.
Maka dari itu, kalaupun nanti ada yang tak berkenan kepada kamu, bilang saja.
Ingat, kita bukan mentalis.
Perjanjiannya tetap, tapi tidak mengikat.
Setelah nantinya kita coba dua tiga tahun, dan rasa-rasanya ini bukanlah apa yang kamu harap,
diskusi, selama ini, itu masih jadi jalan terbaik.
Mungkin hasilnya rekonsiliasi, mungkin bukan.
Kamu ambillah lantai bawah.
Area bebas rokok kalau kamu tidak suka asap.
Saya bolehlah mengabukan batangan tembakau ini diatas.
Di singgasana tarzan.



Jadi, yang terhormat (calon) teman serumah di masa depan,
baiknya kita kenalan dulu.
Kenalin,
saya Rizky.
Kamu?

--


the tears of snowmen


“You know what charm is: a way of getting the answer yes without having asked any clear question.”
- Albert Camus  ― The Fall -





--

Ketika kamu sudah lama menunggu, tapi dia tidak juga mencintai kamu ..
Ketika kamu rindu, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu ..
Ketika kamu ingin memeluk, tapi bukan kamu yang ingin dia peluk ..
Ketika seseorang mencintai kamu, tapi bukan dia yang sedang kamu tunggu ..
Ketika kamu ingin pergi, tapi hati kamu masih ingin di sini ..
Ketika datang cinta yang sangat kuat, tapi hatimu sedang tidak siap ..
Ketika lukamu sudah hampir sembuh, tapi tiba-tiba dia yang melukaimu muncul kembali dan pertahananmu seketika rubuh ..
Ketika kamu tidak ingin dia yang menyakitimu kembali, tapi hatimu terlalu rapuh untuk memintanya pergi ..
Ketika orang yang kamu inginkan sudah kembali, tapi segalanya sudah tidak sama lagi ..
Ketika kamu ingin marah, tapi setiap kali dia tersenyum semua itu cuma membuat kamu menjadi lemah...
Ketika cintamu begitu menggelora, tapi dia menanggapinya biasa saja ..
Ketika kamu sudah melalui semuanya, lalu sadar,
bahwa kalau kamu bisa bertahan, ternyata tidak seburuk yang kamu kira ..
Ternyata ketika kamu terus saja berjalan, semua selalu baik-baik saja ..
Ketika itu, kamu belajar tentang betapa tidak ada yang sia-sia,
betapa Allah selalu membayar setiap air mata dengan berkali lipat tawa,
dan bahwa yang milik kamu akan menjadi milik kamu,
dan yang bukan milik kamu, juga tidak akan menjadi milik kamu,
yang terpenting lagi, ternyata kamu jauh lebih kuat, dari apa yang kamu kira ..

..
ternyata, kamu hanya perlu menyadarinya ..




the silence goes for miles


“True love is rare, and it's the only thing that gives life real meaning.”
- Nicholas Sparks ― Message In a Bottle -





--


Sudah, Kuy ..
Dia tidak mencintai kamu. Terima, lalui, dan berjalanlah lagi .
Kamu mengira dia juga punya perasaan yang sama denganmu, meski ternyata kenyataannya tidak ? Sebenarnya sederhana, kalaupun kamu membuat dia bahagia, itu bukan berarti kamu membuat dia jatuh cinta. Itu beda .
Bahkan ketika dia memujimu, bukan berarti juga dia menyenangi kamu .
Kadang memuji artinya memuji. Itu saja. Bukan mencintai .
Kamu salah mengerti. Tapi, tidak apa. Hal seperti itu sering terjadi .
Lagipula kamu mau apa ?
Kalaupun kamu akan datang ke tempat mana pun dia memintamu datang, atau menemaninya sepanjang waktu dari pagi sampai pagi lagi hanya untuk mendengarnya bercerita dan membuatnya tertawa, atau membuatkannya hal-hal istimewa seperti kejutan dan semacamnya untuk membuatnya bahagia,
well .. masalahnya, teman, dia tidak mencintai kamu ..
Itu kamu harus tahu .. Tapi sudah, terima saja .
Iya, Kuy, saya paham. Sangat paham.
Kamu mencintainya, mencintai perempuan itu . Tapi hentikan, sudah cukup .
Kamu pernah membuatnya tertawa ..
Iya, saya melihatnya sendiri ketika itu, tapi sudah cukup .
Kamu sering menemaninya bercerita sampai larut malam .. Iya, itu juga, tapi sudah cukup .
Kamu sudah melakukan apa yang kamu bisa untuk membuatnya jatuh cinta . Tapi sudah cukup .
Sekarang, waktunya kamu melepaskan .
Dia sudah punya kebahagiaannya, tanpa kamu harus membuatnya bahagia .
Tanpa kamu pun, sekarang, sudah ada yang menemaninya bercerita berlama-lama .
Sudah, berhenti saja . Kasihani hatimu, kasihani masa depanmu, kasihani dirimu sendiri .
Iya, kamu memang belum sempat mengatakan mencintainya, dan kamu penasaran sekali dengan itu .
Saya tahu, Allah tahu. Tapi, tidak apa .
Kalau kamu mau mengatakannya, katakan saja. Tapi bukankah dengan mengatakannya, kamu justru membuatnya tidak nyaman ?
Kamu, dan saya, sama-sama tahu, dia sudah bahagia .
Dengan mengatakannya, akan membuatnya menerima situasi yang benar-benar tidak menyamankannya . Membuatnya merasa tidak enak denganmu karena membuat kamu patah hati .
Ke depannya, ketika kamu dan dia bertemu lagi, bisa-bisa yang ada hanya kecanggungan saja .
Tidak mengenakkan sama sekali, bukan ?
Ah, tapi itu tadi hanya pikiran logika saya saja .
Kamu boleh menerimanya, Kuy .. boleh tidak.
Ini tetap hidup kamu, bukan saya .
Cinta kamu, bukan saya .
Hati kamu, bukan hati saya .
Iya. Saya juga tahu itu. Sangat tahu kalau dia mempesona .
Tidak banyak perempuan sepertinya .
Iya. Saya mengerti juga kalau kamu merindukannya .
Merindu berbincang dengannya, merindu membuatnya tertawa, merindu berbagi cerita.
Tapi demi kebaikanmu, berhenti saja .
Lupakan dia . Akan ada cinta yang lain untuk kamu.
Kamu hanya harus melihat ke arah lain, ke mana pun itu .
Kalau yang kamu lihat selalu dia, kamu tidak akan bisa melihat bahagia lain yang mungkin sudah menunggu kamu di luar sana .
Bukan yang sekarang memang, tapi benar-benar ada dan nyata
Yang kamu mencintainya, dan dia mencintai kamu juga .
Tapi nanti ya, nanti .
Karena kadang, untuk kebahagiaan, kamu hanya harus bersabar sebentar.
Oya, berjanjilah kamu akan baik-baik saja .
Dia? Tidak perlu khawatir, sudah ada yang menjaganya.
Kalau kamu mencintainya, kamu lebih suka dia bahagia, bukan? Seharusnya .
Jadi, lakukan seperti itu. Biarkan dia berbahagia .
Terima saja. Lalui, dan berjalan lagi seperti biasa.



the points of light



“The very essence of romance is uncertainty.”
- Oscar Wilde ― The Importance of Being Earnest and Other Plays -




--


Sudah semestinya kamu memberikan lebih, untuk juga mendapatkan lebih .
Termasuk dalam hal perhatian dan hati .
Sudah semestinya kamu berhenti menunggu, kalau dia saja tidak pernah memikirkan kamu .
Sudah semestinya kamu melepaskan, kalau memang dia tidak ingin dipertahankan .
Sudah semestinya kamu terus berjalan, kalau memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan .
Sudah semestinya kamu mengasihi hatimu, daripada terus-terusan dikendalikan egomu .
Sudah semestinya kamu berusaha jatuh cinta lagi, kalau cinta yang dulu tidak lagi peduli .
Sudah semestinya kamu menyukuri banyak hal yang kamu miliki, daripada menggerutui sedikit hal yang tidak kamu miliki .
Sudah semestinya kamu berbahagia, karena memang sudah selayaknya kamu berbahagia,
dengan melepaskan apa pun yang tidak ingin dipertahankan, dengan tidak menuruti egomu dan mengasihi hatimu,
dengan mensyukuri yang dimiliki dan yang didepanmu,
dan dengan berjalan lagi untuk siap mempercayakan hatimu lagi ..




the realness





in the end,
we only regret the chances we didnt take,
the relationships we were afraid to have,
and the decisions we walted too long to make ..
- unknown -





--
Dua orang yang saling memikirkan, tapi tidak pernah berani mengutarakan ..
Dua orang yang saling perhatian, tapi berusaha untuk tidak ketahuan ..
Dua orang yang bertanya dalam hati, 'Apakah dia memiliki perasaan yang sama?', tapi tidak pernah berani menanyakan ..
Dua orang yang berusaha saling menjauh, sekaligus saling merindukan satu sama lain ..
Dua orang yang saling merindukan, tapi tidak bisa mengatakan karena masing-masing sudah berpasangan ..
Dua orang yang masih menyesali, kenapa mereka dulu tidak mengusahakan untuk bersama ..
Dua orang yang berbicara tentang saling mencintai, tetapi tidak ada yang mengerti karena mereka menggunakan bahasa hati mereka sendiri ..
Dua orang yang entah sampai kapan saling mencintai, tapi berpura-pura tidak peduli ..