Tampilkan postingan dengan label self untrusted. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label self untrusted. Tampilkan semua postingan

self #24




“That's how you know you love someone, I guess, when you can't experience anything without wishing the other person were there to see it, too.”
- Kaui Hart Hemmings, The Descendants -



There will be the time,
when there's only you and I,
sitting beside each other,
cuddling.

There will be the time,
when there are we and chaosy,
standing in front of each other,
arguing.

There will be the time,
when there's only me,
laying my back on the ground,
feeling lost.

There will be the time,
when you come,
to take me out of this loneliness,
or not.

you decide.


self #23


“Then I thought, boy, isn't that just typical?
You wait and wait and wait for something, and then when it happens, you feel sad.”
- Sharon Creech, Absolutely Normal Chaos -




Setiap menjadi biru, aku selalu ingin berlari menuju waktu.
Ketika luka berputaran seumpama awan di langit, menjadi kerling bebungaan : di matamu

***

Setiap menjadi biru, kugambarkan debu dari abu senja, berpura-pura seperti serbuk bintang yang berjatuhan dari sayap seorang peri.
Mungkin ia bisa menemukan peta pulang : kepadamu

***

Setiap menjadi biru, kubuka kenangan ungu akanmu.
Ketika rindu belum mengenal sendu.
Kau dan aku, meramu tawa dalam puisi sambil berlalu.

***

Setiap menjadi biru, aku mengeja rindu.
Pada esktase yang hanya kutemu dalam lengkung tubuhku yang menyelarasi lekuk dirimu.

***

Setiap menjadi biru, aku akan menerbangkan perahu ke langit sore.
Meminta janjimu :  untuk menjadi hujan, yang menyembunyikan airmataku.

***

--
maka di sinilah aku ,
menatapmu dari jauh ,
mencintaimu dalam diam ..



self #22


 “i'm selfish, impatient and a little insecure.
  i make mistakes, i am out of control and at times hard to handle.
But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best.”

- Marilyn Monroe -



 --

sekedar tanya ;
" mampukah kau berikan, saat yang kuminta adalah segalanya ? "



the landing grounds


We shall defend our island, whatever the cost may be, we shall fight on the beaches,
we shall fight on the landing grounds, we shall fight in the fields and in the streets,
we shall fight in the hills; we shall never surrender.
- Winston Churchill -



---

Begitu banyak yang ingin saya ceritakan dengan kamu,
tentang hari-hari padat yang dipenuhi abu rokok,
tentang angka-angka dan prediksi sampai dengan akhir tahun yang harus saya telaah,
tentang loncatan satu jam ke jam lain, atas nama penyesuaian diri.
Dan diluar itu,
tentang satu cerita,
tentang kawan.

Yang saya percaya,
cinta hadir dalam berbagai bentuk diantara manusia.
Ada yang mengambil bentuk romantis,
ada yang mengambil bentuk humanis,
ada yang berperan sebagai kawan,
dan ada yang melekat seperti sedarah, saudara.

Kawan hadir dalam bentuk keluarga.
Menjadi sosok adik-kakak yang saya temukan diantara teman-teman di belahan timur kota Bandung.
diantara kami semua, saya memang paling tua.

Kami berempat ibarat domba yang hilang di kerumunan,
kami seolah punya dunia kami sendiri,
terkumpul pada ladang kami sendiri,
mencari hidup pada perbukitan yang penuh manusia,
manusia-manusia yang kadang jadi serigala.

Sebegitu besarnya rasa tidak percaya saya kepada kawanan manusia itu,
saya menularkannya kepada dia.
Hasilnya adalah gelas pahit yang dibubuhi arsenik.
Mematikan.

Secara tidak sadar, saya sudah menjadi penasihat yang tidak membangun positif.
Saya mengajarkan kepada mereka untuk menjadi terlalu realis, atau dalam kasus ini lebih tepatnya pesimis, dan berhenti menyetarakan mimpi dengan harapan.
Karena itu palsu, dan semua akan berujung kecewa.
dan saya berhasil mencetak satu demi satu lagi manusia pahit di dunia, ternyata demikian.

Ketika pahit,
orang berhenti bicara cinta, terlebih harapan, terlebih mimpi.
Hari ini adalah hari ini untuk ditaklukkan, jangan cerita besok, apalagi masa depan.
Ketika pahit,
saya berhenti melihat masa depan sebagai bagian dari rencana,
mempergunakan impuls refleks sebagai senjata konyol andalan, untuk mengalahkan emosi.
Karena toh katanya, Virgo itu moody, jadi tameng saya harus ganda.

Ketika pahit,
saya menyebarkannya kepada manusia lain,
dan itu salah.
Ketika pahit,
saya ingin melompat ke kolam bernama masa lalu,
dan melapis ulang retakan-retakan dengan mortar,
dan itu salah.

Saya mencari jawaban atas masa lalu yang sudah mati.
Dan itu bodoh.
Lebih bodoh lagi, kalau saya membangun kota mimpi diatas masa lalu mati itu.
Sangat bodoh.

Jadi disinilah saya,
di kota seribu lampu, dan sejuta harapan palsu,
berdiri, berusaha merubuhkan penjara masa lalu,
berjuang kembali,
atas nama hari esok.






the coward

Yet each man kills the thing he loves
By each let this be heard,
Some do it with a bitter look,
Some with a flattering word,
The coward does it with a kiss,
The brave man with a sword
- The Ballad Of Reading Gaol (poem) - Oscar Wilde -


--

Hidup tanpa perubahan itu bisa jadi sangat membosankan.
Tapi perubahan yang terlalu cepat bisa jadi mematikan.
Apa yang saya tangkap, tidak sebanding dengan apa yang saya harap.
Dan apa yang saya harap, tidak sejalan dengan apa yang digariskan.
Atau garisnya sudah saya hapus sendiri,
tanpa sepengetahuan saya, tangan sudah bergerak melampaui otak.
Menuliskan berbaris baris kalimat yang salah,
untuk orang yang tepat.

Cerita saya kali ini dimulai dari suatu pekan yang penuh rencana.
Rencana yang satu persatu kemudian akan gagal secara beruntun,
khas sekali selayaknya garis titian nasib yang sudah saya tempuh dua dekade ini.
Dibangun, diberantakkan oleh tangan sendiri.
Apa benar saya pernah menyelesaikan suatu hal dengan sempurna,
kadang pertanyaan sedatar itu muncul dua tiga kali sehari,
belakangan ini terutama.

Urusan hati,
biarlah jadi beku di peti es.
Seperti kasus kasus tak terpecahkan.
Berlalukan saja.

Apa yang saya pikirkan sebagai nomor satu sekarang adalah memperbaiki rutinitas saya.
Kebiasaan tidur yang sudah melantur mendekati subuh kembali,
kondisi badan yang dekat dengan flu yang sudah jadi epidemi,
tanggung jawab yang semakin menumpuk,
dan kondisi saya, yang sepertinya semakin berkemampuan terbatas dalam bersosialisasi,
dengan manusia, dengan manusia secara langsung, atau dengan manusia dalam kapasitas sinyal.
Dibatasi oleh otak yang tidak mampu menemukan korelasi apa yang harus saya katakan,
sebagai balasan pertanyaan yang sudah terjawab, supaya situasi tidak menjadi kelu.

Singkat kata,
saya sedang menyendiri.
Sosialisasi dengan manusia kategorinya ada dua :
Sesekali menjamu teman yang terbang lintas dari jam ke hitungan hari,
Lain dari itu, saya cenderung menyendiri.

Ini gejala apa, saya tidak tahu.
Tapi hidup itu berputar, bergerak, tidak berhenti sampai disini.
Semua yang dibangun dan runtuh, perlu tangan untuk memunguti puingnya,
dan membuangnya, atau menyimpannya untuk nanti membangun kembali.

Jadi tepatnya sekarang ini,
saya sedang membangun saya,
dari apa yang tersisa,
untuk saya yang bangun besok pagi.

Ini untuk kamu Kuy, yang besok menguap-nguap rindu kopi hitam,
menggeratak meja mencari rokok dan korek.
Bangun lagi sekarang, atau mati.
Cuma itu pilihannya.




--





Edward - Bella




--

Semua orang yang saya kenal tahu,
betapa tergila-gilanya saya pada kisah cinta karangan Stephanie Meyer itu.
Saya menghabiskan ribuan lembar halaman dalam waktu tiga hari, begitu terus semua buku saya lalap habis.

Awalnya saya tidak tertarik, sampai akhirnya komplimen demi komplimen tentang kisah cinta antara vampir laki-laki dan wanita smu ini membangkitkan keingin-tahuan saya.
Saya penasaran.
Ternyata memang buku ini sangat menarik, dan mereka tidak mengada-ada.
Setelah beberapa lembar halaman pertama, saya larut dalam kisah cinta luar biasa antara mereka, sang vampir dan si manusia. Edward dan Bella.

Saya jatuh cinta dengan cara mereka mengekspresikan kerinduannya,
saya jatuh cinta dengan kata demi kata yang keluar dari mulut mereka,
saya jatuh cinta, pada cinta mereka, pada kutukan mereka, pada keinginan mereka, pada impian dan nafsu mereka,
saya bahkan jatuh cinta, pada penderitaan mereka.

Lembar demi lembar saya lahap dengan rakus,
kalimat demi kalimat memborbardir isi kepala saya,
saya tertawa bersama mereka, saya menangis bersama mereka.
Saya merasa, saya menjadi mereka.
Saya Edward, yang mencintai Bella saya.

Edward versi saya bukan sesosok vampir berkulit putih, bermata hitam kelam, dan berambut coklat kemerahan.
Edward versi saya hadir dalam sosok seorang lelaki sederhana yang punya garis wajah keras dan mata yang menembus jauh ke dalam jiwa.
Mungkin persamaanya adalah, Edward versi saya juga seorang vampir, walau bukan dalam arti harfiah.
Dia hanya punya hati yang dingin, penuh luka, tanpa jiwa, setidaknya itu yang saya rasa.
Dan satu hal lagi, saya juga mencintai Bellanya dengan cinta yang teramat dalam, dan tanpa syarat, walau saya tau .. cintanya mampu membunuh saya.

Kisah ini bukan lagi kisah fiksi tentang Sang vampir dan si gadis pemimpi.
Ini kisah tentang saya, dan Bella.
Dua manusia dengan begitu banyak luka di hati.
Ini sebuah memoar tentang cinta terlarang,
cinta yang tidak seharusnya ada namun dengan ke-keraskepalaan-nya tetap tumbuh untuk jadi rimbun.
Ini sebuah tulisan, tentang perjalanan, dimana tidak pernah ada jalan kembali tanpa menjadi remuk dan hancur.

--
Aku capek berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah. Menyerah berusaha bersikap baik. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang aku inginkan, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya.

--

Seperti Edward, yang terkesima kali pertama dia melihat Bella, seperti itulah perasaan saya pertama kali saya mengenal dia.
Ada satu aura yang tidak bisa saya jelaskan, yang menarik saya dengan begitu rupa untuk mendekat kepadanya.
Kami bagai magnet yang saling tarik menarik.
Semakin kami berusaha untuk melepaskan diri, semakin serpihan demi serpihan dari hati kami melekat jadi satu.
Seperti Bella dan Edward yang tak kuasa saling menghindari, seperti itulah kami tak kuasa saling menjauhi.

Segalanya begitu kuat,
segalanya tak terelakan,
perjumpaan pertama,
perbincangan pertama.
Segalanya begitu indah, luar biasa dan memabukkan.
Kami bahkan sudah lelah untuk berusaha mengingkari segalanya, karena bagaimana mungkin? Segalanya begitu nyata, bahkan diantara realitas yang sedemikian absurdnya pun ini masih terlampau mengikat untuk dilepaskan.

Dan Seperti Edward yang dikutuk untuk mencintai Bella si manusia fana, dan Bella yang dikutuk untuk tua dan mati tanpa bisa memiliki Edward sepenuhnya, demikian pula kisah cinta saya dengan "Bella".
Cinta kami tumbuh layaknya kutukan yang tidak bisa dipatahkan.
Bagaikan dua sisi kepingan mata uang logam, cinta antara saya dan dia berkembang hebat begitu cepat seiring dengan kepedihan yang menyertainya.
Tidak pernah ada tawa murni yang tidak dihiasi kesedihan,
tidak pernah ada ciuman yang tidak diiringi dengan doa-doa penuh harap,
tidak pernah ada hari tanpa kepedihan yang menyelip masuk begitu saja.
Layaknya mencintai sesosok matahari, kami dikutuk untuk tidak pernah bisa mencintai tanpa tersengat dan terbakar oleh cahayanya.
Layaknya mencintai rembulan, sudah suratan takdir untuk bercinta dibawah dingin yang membekukan tulang.
Kami terhujat, ketenangan menjadi permata yang begitu berharga diantara begitu banyak telunjuk dan tatapan mata yang penuh tudingan.

Dan cinta, mungkin cuma itu yang kami punya.
Cinta, tanpa sebentuk pengakuan.
Cinta kami, cinta yang walaupun megap-megap kekurangan oksigen berusaha menyelusup di lorong-lorong kecil gelap, bau, dan penuh dengan tikus got

--
Maaf, telalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu.



Sewaktu saya membaca kata-kata itu entah di halaman keberapa, sungguh saya tertegun hampir semenit penuh.
Kalimat itulah yang menggema di hati saya ketika saya bersama dia.
Kedekatan kami, entah bagaimana, dengan ajaibnya merontokkan tembok demi tembok yang kami bangun selama ini.
Terlalu mudah untuk menjadi lemah,
terlalu mudah untuk mempercayai mimpi,
terlalu mudah untuk melonggarkan pertahanan diri dan sekali lagi bermimpi.
Tabir demi tabir disingkapkan, dan selayaknya putri arabia menyingkapkan cadar untuk menyongsong kekasihnya, begitu pula kami, telanjang di hadapan satu sama lain ... dengan tubuh kasar, dengan hati tanpa tubir, mengamati, bercinta dengan dosa.
Selalu manis,
seperti kembang gula yang lumer di lautan hati, seperti bau marshmallow bakar yang dicelupkan ke dalam susu coklat, seperti itu kami, yin dan yang, menyatu, melekat, bagai putri kerajaaan antah berantah yang tergoda rayuan apel beracun.

Tidak ada lagi seorang saya, tidak ada lagi dia, yang ada hanya kami.
Dan saya bukan Edward yang memiliki kekasih seorang peri dengan sejuta bisa,
dia menjadi Bella milik saya.
Bella yang menyentuh saya sampai ke dasar yang paling dalam.
Dan saya Edwardnya, miliknya seorang.

--
"Apa yang kau takutkan, Bella?"
"Aku takut, aku tidak bisa terus bersamamu. Karena untuk alasan yang jelas, aku tak bisa terus di dekatmu. dan Aku takut keinginan untuk bersamamu bahkan lebih kuat dari seharusnya."



Jangan pergi, sayang.
Kalau saja kata itu cukup kuat untuk membuatmu tinggal, kalau saja kata itu mampu menghentikan waktu dan membuatmu terus bersandar di pelukan saya, kalau saja kata itu bisa mematahkan rantai-rantai yang menyimpan nama demi nama dan kewajiban demi kewajiban ..
Maka saya rela,
menghabiskan detik demi detik dalam kehidupan saya untuk membisikan doa demi doa,
merayu Sang Pencipta Waktu, sampai mulut saya berbusa kehabisan nafas supaya jalan kami tidak pernah akan terpisah.

Dia Bella milik saya,
yang mencintai saya dengan cinta yang sedemikian uniknya,
yang menyisakan sedikit hangat yang tersisa dari hatinya yang biru untuk memeluk segala luka.
Dia Bella milik saya,
sesosok wanita sederhana yang membawa doa dalam langkahnya,
yang memimpikan lautan dan gunung dan sebentuk rumah sederhana.
Dia adalah Sang cinta, Sang matahari, dan Sang nafas.

--
Aku tak tau bagaimana caranya dekat denganmu, aku tak tahu apakah aku bisa


Tapi ternyata tidak sesulit itu.
Ternyata rasanya sealami kami bernafas,
senormal matahari yang timbul di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.
Rasanya semudah air yang mengalir dari hulu menuju ke hilir.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami pulang.
Seiring dengan bibir yang mengecup,
seirama dengan detakan jantung saat tubuh melekat,
di tengah lenguhan dan manisnya suara, kami kembali ke rumah.

Ternyata semudah itu cinta timbul, sesederhana itu cinta ada ..
yang entah bagaimana caranya,
di atas segala alasan untuk keterpisahan kami,
cinta kami punya jalan untuk tumbuh walau diantara derai air mata.

Saya Edwardnya, yang mencintainya dengan kekompleksitasan cinta dan keadaan.
Yang menggumamkan namanya setiap malam sebelum mata terpejam.
Saya Edwardnya, sesosok lelaki dengan sejuta kekurangan yang membawa harap dalam dada,
yang memimpikan cinta, kebahagiaan, dan harapan.
Saya Edwardnya, cintanya, lelakinya, jiwanya.

..
..
..


Ini tulisan terlama yang pernah saya buat, berhari-hari saya memikirkan bagaimana saya harus menulis akhir dari tulisan ini.
Tapi toh nyatanya, penghabisannya tidak pernah selesai saya tulis sampai detik ini.
Sejujurnya, saya bingung!
Saya tidak tau apa yang lebih bijak.
Apakah saya harus menulis akhirnya sesuai dengan apa yang saya mau,
atau saya harus menulis akhirnya sesuai dengan apa yang saya prediksi akan terjadi.
Apakah saya harus menulis mimpi, atau saya harus menulis kenyataan walau pahit adanya. Sebuah cerita bahagiakah ini?
Apakah kalimat akhirnya akan menceritakan tentang saya dan dia yang duduk di tepi pantai sambil berpelukan mesra?
atau sebaiknya saya menulis bahwa pada akhirnya saya dan dia harus berpisah setelah sedemikian kerasnya kami berusaha untuk bersama?
atau sebaiknya saya menulis, bahwa akhirnya kami menyerah dan memilih untuk menghindari satu sama lain?
Dan bagaimana dengan cinta?
bagaimana harus mengakhiri cinta kami?
apakah lebih baik jika saya yang mengucapkan selamat tinggal kepadanya?
atau dia yang mengucapkan salam perpisahan kepada saya?
akankah cinta ini saya buat menjadi abadi walau kita tidak bersama-sama lagi?
atau lebih baik kita berakhir dengan saling membenci dan saling memaki?

Saya masih tidak punya jawabnya,
jari saya kelu pada saat seharusnya saya menulis akhir dari kisah ini.
Karena itu akhir cerita ini belum selesai sampai sekarang.
Seperti saya sedang dag-dig-dug menantikan buku selanjutnya dalam trilogi kisah Edward dan Bella ini, saya pun sedang menerka-nerka kemana akhir cinta kami akan berlabuh.
Tapi apapun hasilnya nanti, percayalah .. saya tidak sedang bermimpi sewaktu memimpikannya.


--
"Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan, tidakkah itu cukup, Edward?"
"Ya itu cukup, cukup untuk selamanya"











self #21


A sense is what has the power of receiving into itself the sensible forms of things without the matter, in the way in which a piece of wax takes on the impress of a signet-ring without the iron or gold.
- Aristotle -



---

Saya akhirnya mengerti, bahwa perjalanan pulang ditengah macet panjang,
iringan syair-syair Allah disudut masjid, diiringi lagu lama, dan baru saja melalukan pengakuan bodoh,
adalah sekonyol-konyolnya konyol,
semati-matinya kartu mati.

Harusnya bisa ditahan,
entah itu kangen, entah itu sayang, entah itu apapun yang ada di dalam diri saya,
untuk kamu.
Tindakan sembrono, dan gegabah bin idiot,
tidak akan membantu banyak untuk saya, ke kamu.
Mestinya paham.
Mestinya mengerti.

Bebal.
Katanya kalau kita cinta, kita itu jadi bebal,
bebal terhadap sekitar, bebal terhadap perasaan yang bukan perasaan kita,
acuh terhadap dunia, cuma satu yang penting,
kamu.
Dan itu jelas salah.
Karena kalau ditimbang lambang Libra,
kita tidak seimbang,
saya ke kamu,
dan kamu ke saya.
Berat di cinta,
cintanya yang sebelah tangan.

Sejelas bercermin di kaca,
sebegitu jelas mestinya semua terbaca.
Sekeras bedug di masjid dekat rumah,
sebegitu jelas mestinya suara itu saya tangkap.
Apa itu saya untuk kamu,
apa itu identitas "kita" yang semu,
yang hanya ada di otak saya.

Sejalan ini,
saya cuma ingin tahu,
pernahkah kamu rindu pada saya ?


---




self #20




Langit memang terlalu luas untuk dipandangi sendirian.

Dan saya hanya butuh seseorang sebagai penyeimbang.
Seorang pelengkap, yang dengannya saya dapat merasa cukup.
Tanpa merasa kekurangan, tanpa merasa kelebihan.
Kepada kamu,
di jari kamu,
tulisan ini saya sematkan kuat-kuat.
Agar kamu tau.
Agar kamu mengerti.
Karena suatu saat nanti,
ketika jaman berubah, ketika era berubah..
ketika kita berubah..
Menjadi tumbuh,
tua dan pelupa,
Saya akan membacakan tulisan ini lagi dihadapan kamu.
Memori sederhana,
yang kelak menceritakan,
sudah seberapa jauh kita melangkah..


---


Ya,
melihat kebelakang dari apa yang sudah kami alami sepanjang jalan ini,
saya ingin menilai keadaan yang ada pada sekarang.
Faktanya, semua seperti sebuah keajaiban.
Bagaimana bisa, saya yang biasa saja, diberkahi dengan begitu banyak hal yang diluar kapasitas kebaikan saya.
Begitu baiknya tangan Sang Maha, sampai dua puluh enam tahun saya bertahan sekarang ini,
ribuan keajaiban besar dan kecil sudah terjadi,
ratusan jiwa datang dan pergi, beberapa orang tetap melekat di hati.


Apa yang sedang kami bangun adalah masa depan ;
Saya, bersama merah muda.
Dan untuk apa yang saya usahakan ratusan mil jaraknya dari dia, adalah sebuah rumah.
Rumah, yang membebaskan penghuninya untuk menjadi dirinya sendiri.
Rumah yang memaafkan, yang berjiwa besar,
yang menerima kesalahan,
mengakui kekalahan,
memaklumi kekurangan,
dan mau mengampuni.
Bagaimana di dalamnya kita berdua seperti orang yang ketakutan akan datangnya badai, untuk kemudian mulai melakukan segala upaya.
Membangun basement tahan goncangan, mengumpulkan stok makanan, air, lilin, buku, dan telefon satelit, agar ketika segala hal yang tidak bisa dicegah mulai menyeruak masuk, kita selalu punya amunisi untuk bertahan.
Kepada kamu,
saya sering berbicara,
menjaring mimpi, lalu mengaminkan keinginan itu sendiri.
Untuk sama-sama belajar, mencari tau, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
You know, trying to be better..
Karena apa yang kita alami dulu, tidak berjalan indah dan semestinya.
Tapi sekuat tenaga kita bertahan.
Di hadapan Tuhan, kita berencana.
Memahami, lalu menghargai.
Hingga hari ini, setiap rasa yang saya punya untuk kamu bukan berkurang.
Semakin bertambah.
Seperti bilangan berpangkat dua dalam matematika dasar, semakin lama semakin besar hitungannya. Dua, empat, enambelas, terus berjalan tanpa batas.Sampai Dia bilang cukup.
Sampai saya harus berhenti.
dan kita terhenti.


Karena tentang kita,
saya hanya perlu percaya.
Tentang kita,
saya hanya perlu berdoa.
Bukan lagi terus menerus memohon agar saya bisa memiliki kamu.
Bukan untuk membujuk terkabulnya apa yang jadi bayangan kita seratus persen,
tapi berdoa untuk setiap hal terbaik yang bisa terjadi.
Karena saya demikian membutuhkan kamu,
saya lalu cuma mau kamu saja ;
Bukan untuk meminta kamu agar tidak pergi meninggalkan,
atau membuat kalimat sepersuasif mungkin, supaya kamu jatuh cinta lebih dalam kepada saya setiap harinya.
Namun beginilah cara saya mengungkapkan segalanya.
Bahwa apa yang membuat kita berbeda, bukan berarti melumpuhkan apa yang kita punya.
Bahwa jarak yang merentang, bukan berarti menjauhkan, tapi menjadikannya sebuah persimpangan yang membawa kita pada sebuah titik.
Di titik ini.
Bukan tentang mempertahankan apa yang telah dimulai, tetapi bagaimana membangun sebuah hubungan menjadi sesuatu yang bisa kita namakan.
Sesuatu yang mampu kita banggakan.
Karena ini adalah pilihan yang saya pilih dengan sadar, jauh enam tahun sebelumnya.
Maka saya tidak ingin menyesal dengan apa yang telah saya pilih, saya yakini, dan saya amini sejak awal bermula.


Terima kasih ya, kamu ;
perempuan ber-kanker dalam rahim.

Terima kasih,
Untuk selalu ada disaat saya membutuhkan kamu..
Untuk tidak pernah mempertanyakan apa yang imgin saya lakukan, disaat saya sedang tidak ingin membaginya..
Terima kasih,
untuk mau menerima saya tanpa syarat, bahkan saat dunia mulai sesak oleh lelaki yang jauh lebih baik daripada saya..
Terima kasih,
untuk selalu membuat saya merasa nyaman dan kokoh,
berani, dan pandai..
Untuk setiap hangat yang hadir, sofa yang nyaman untuk diduduki, dan rindu yang slalu kamu beri tanpa sadar..
Untuk canda khas kekanakan kamu, dan tawa riuh yang terlontar disaat saya sedang menjadi lelaki yang 'pemarah dan tidak baik'.


Saya sayang kamu;
Kirana Araya,
setengah mati sayang kamu.
bukan karena manisnya,
bukan karena cantik jiwanya,
bukan tentang semua yang ditampilkan dunia secara kasat mata,
tapi untuk apa yang telah, maupun yang belum kamu lakukan untuk saya.


---




self #19



i know i got it made while the masses of black people are catchin' hell,
but as long as they ain't free, i ain't free.
- Muhammad Ali -


---

Mimpi saya dibuat dari kertas yang dilipat acak,
belum pernah ada polanya, kecuali garis-garis yang terbentuk setelah bongkar pasang.
Dibuat dengan percobaan berulang kali yang gagal.
Abstrak.

Awalnya adalah keinginan,
keinginan untuk membuat orangtua saya tersenyum ketika menimang balita berumur hitungan bulan,
yang secara absolut adalah anak saya, dan perempuan masa depan saya,
mungkin genetik, mungkin tidak.
ilmuwan masih belum mampu mengalahkan genetika untuk yang satu itu.

Keinginan yang berkembang menjadi visi,
bahwa nantinya akan ada saya,
yang menjadi fans nomor satu dari balita itu,
dan perempuan masa depan seumur hidup saya,
yang kemudian adalah ibu balita itu.
Berdiam di rumah, menyanyi balonku ada lima,
sembari secara fatal, saya akan benar-benar meniup balon,
dengan warna-warna yang salah,
dengan hitungan yang exceed melampaui lima,
lalu balita itu akan terkekeh,
dengan gigi yang baru saja tumbuh satu minggu.

Apa yang saya impikan,
adalah apa yang dilarang oleh masyarakat,
apa yang menjadi tabu, menjadi haram, menjadi maksiat untuk semua orang disini.
Apa yang ada di visi saya,
adalah segala yang jahat versi norma manusia normal.
Lalu bagaimana setan seperti saya bisa tahu rasanya punya keluarga kecil,
kalau keluarga kecil setan adalah kejahatan.

Mimpi saya adalah menghadirkan penghibur untuk kedua orang tua saya,
membiarkan mereka mengajari saya menjadi ayah,
membuat ibu saya mengerti, rasanya punya menantu perempuan yang bisa diajak cerita panjang, membuat kue, ataupun sebatas memilih model kerudung.
Membentuk jagoan organisasi di generasi ketiga dari ayah saya,
atau mungkin membiarkan sang ibu membentuk dia menjadi juara dandan sekecamatan.
Mungkin tidak setinggi menguasai Apple, tidak semashyur menaklukkan Roma,
tidak semulia mendamaikan Palestina-Israel.
Tapi semaksiat kejahatan terjahat di norma masyarakat.

Dan mungkin suatu hari, akan ada masanya,
dimana saya akan dibangunkan oleh suara balita menangis,
yang kemudian tertidur di pelukan,
sementara ibunya memeluk saya dari belakang,
sembari berdiri di ruang keluarga kami.

Benar.
ruang keluarga.



---





self #18






terima kasih,
telah mengijinkan saya membagi begitu banyak kepedihan,
untuk sepasang telinga yang selalu mendengar, dan satu hati yang selalu saja memaafkan ..

terima kasih,
untuk mengijinkan saya menjadi diri saya sendiri,
terlebih menjadi kuat waktu saya lemah ..

terima kasih, atas setiap jalan yang kamu tunjukan,
bahkan sewaktu diri saya tidak mampu lagi melangkah ..

terima kasih,
untuk tertawa bersama saya,
namun tidak meninggalkan saya dalam tangis ..

dan terima kasih,
untuk selalu ada, dan menyayangi saya sebagaimana saya ada ..


--





self #17



--

Kado ulang tahun
apa yang sebaiknya kuberikan padamu sekarang ?
untuk mengungkapkan rasa yang pernah ada ..

bunga tak lagi bicara, boneka pun tak mungkin bermakna
aku perlu barang yang lebih berguna
simpati lebih merupakan rekayasa
kau curiga mungkin itu sandiwara ?

kue tart sebesar lapangan bola
tak mampu menutup semua bolong didada
puisi dan kata-kataku kehilangan makna
kau mungkin harapkan yang berbeda
benarkah kau tak memerlukan apa-apa ?
atau mesti kuartikan itu segalanya ?

sekarang biarlah aku bercerita saja
tentang arti duka dan kecewa
barangkali kau bisa kembali tertawa
seperti kudengar ketika kita bersapa ..

--






self #16


you can only hurt someone until there's nothing left to hurt.

- Anonymous -


---

Sedikit yang saya sadari dari perubahan saya beberapa puluh hari belakangan ini,
salah satunya adalah nampak jelasnya urat nadi yang ada di pergelangan,
menonjolnya otot-otot penghubung motorik jari tangan,
dan beberapa hal yang lolos dari pengamatan saya.

Kaos kemeja , sekarang rasanya sedikit kedodoran,
celana, berlaku hukum yang sama,
yang masih bertahan tetap, adalah banyaknya muatan yang saya loading di saku celana,
hal itu, sedikit banyak menimbulkan efek gembung,
yang kata orang-orang sini, khas saku celana saya,
gembung.

Waktu yang bisa saya luangkan untuk duduk tenang,
berpikir, menikmati waktu sendiri saya,
tanpa berpikir tentang masa depan, list hal-hal yang harus saya lakukan,
atau harus saya jelaskan dan delegasikan,
tidak pernah surut dari sebulan belakangan.
Jam tutup wartel, adalah jam tutup gerbang kompleks hari dimana saya tinggal,
dan jam operasi usaha, adalah jam pergantian shift malam ke pagi versi matahari, penyinar untuk dunia.
Tenaga saya diserap habis oleh lalu lalang orang-orang.
Pikiran yang datangnya silih berganti ini itu.

Sesempurna itu dunia saya untuk membunuh saya,
untuk 'menyingkirkan' kamu dari dunia saya,
merah muda.

Badan saya sepertinya sudah kewalahan mengelola semua ini,
otak saya juga sudah mati-matian mengambil start dan stop yang selalu saya paksakan dengan cepat.
Antara sibuk memikirkan hari besok sejalan saya sikat gigi sebelum tidur,
diteruskan lima menit kemudian, yang saya paksakan untuk tidur lelap.

Sesempurna itu, metoda dan tekhnik yang saya pakai untuk menjadi assasin atas hidup saya sendiri,
serapi itu rencana saya untuk membuat kamu 'bergeser' dari pikiran saya.

Tapi kenapa harus kamu yang naik ke permukaan,
menyambangi dunia saya yang hitam putih,
menaburkan kilap emas dan kemilau sinar kemerahan,
tiap kali saya diam,
dan tidak melakukan apapun?

...