- A. C. Benson -
--
Kita kembali ke dunia nyata, dunia dimana uang harus dicari dengan akal budi dan keringat sehari-hari.
Realita, demikian mayoritas orang jaman sekarang menyebutnya.
Dunia yang membuat saya lupa, bahwa saya sudah jatuh cinta.
Dan dengan bodohnya, saya tidak mencatat, atau berusaha menanyakan dimana kamu tinggal.
Berapa nomor telepon kamu, apakah kamu punya alamat email. Atau bagaimanalah, selayaknya manusia normal.
Saya hanya percaya kata takdir.
Kalau kamu milik saya, untuk saya, kamu pasti bertemu lagi dengan saya.
Saya bodoh sekali ya ..
Itu sebenarnya alasan kedua.
Alasan pertama adalah saya belum mampu.
Saya merasa belum mampu untuk memiliki pacar, kekasih, jangankan istri.
Saya masih bebal, dan tidak punya cukup kapital dalam bentuk aset maupun uang.
Saya masih membangun diri saya, yang selalunya saya hancurkan sendiri.
Saya masih dungu, dan tidak mempersiapkan untuk hidup berdua, atau bertiga, atau bersembilan, kalau anak saya nanti banyak.
Saya, merasa, dengan apa yang saat ini saya miliki, tidak akan membahagiakan kamu.
Saya berpikir, dengan apa yang saya miliki, saya tidak setara dengan kamu.
Jauh di dalam hati saya, saya ingin mengejar kamu, menjadikan kamu kepunyaan saya.
Tapi logika saya berkata, saya perlu setara dulu dengan kamu.
Setara dalam arti saya mandiri, secara finansial, punya persiapan untuk hidup berdua atau lebih, ada aset, dan sebagainya, dan seterusnya.
Standar manusia lajang yang ingin berubah menjadi ganda campuran.
Berangkat dari itu,
saya mulai mencari sesuatu yang berpenghasilan lebih besar.
Mempersiapkan hidup finansial secara lebih mapan. Menabung, itu yang penting.
Berinvestasi, kali ini bukan pada playstation dan telepon umum, tapi pada beberapa hal yang disarankan ekonom-ekonom terpandang.
Saya, membangun hidup saya, mulai dari goresan pertama lagi. Tujuannya satu, kamu.
Nanti kalau ada kesempatan kita bertemu lagi.
Tapi takdir itu lucu, saya pulang lagi ke sana pada saat Lebaran,
dan tidak menemukan kamu dimanapun.
Saya mencari, saya menunggu, dan tetap tidak ada kamu.
Saya pulang ke rumah, hanya jika ibu saya sudah menelefon terus, menyuruh pulang mandi dan sebagainya. Saya bertingkah bengal.
Seperti remaja tujuh belasan tahun yang kasmaran pada gadis sekolah lain.
Saya menunggui kamu.
Dan kamu tidak ada.
Kamu, dimana?
--





:) , oh iya, mungkin, dia juga suka mawar.






