Tampilkan postingan dengan label a letter to Isabell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a letter to Isabell. Tampilkan semua postingan

the paid


" Very often a change of self is needed more than a change of scene. "
- A. C. Benson -




--

Kita kembali ke dunia nyata, dunia dimana uang harus dicari dengan akal budi dan keringat sehari-hari.
Realita, demikian mayoritas orang jaman sekarang menyebutnya.
Dunia yang membuat saya lupa, bahwa saya sudah jatuh cinta.
Dan dengan bodohnya, saya tidak mencatat, atau berusaha menanyakan dimana kamu tinggal.
Berapa nomor telepon kamu, apakah kamu punya alamat email. Atau bagaimanalah, selayaknya manusia normal.
Saya hanya percaya kata takdir.
Kalau kamu milik saya, untuk saya, kamu pasti bertemu lagi dengan saya.
Saya bodoh sekali ya ..


Itu sebenarnya alasan kedua.
Alasan pertama adalah saya belum mampu.
Saya merasa belum mampu untuk memiliki pacar, kekasih, jangankan istri.
Saya masih bebal, dan tidak punya cukup kapital dalam bentuk aset maupun uang.
Saya masih membangun diri saya, yang selalunya saya hancurkan sendiri.
Saya masih dungu, dan tidak mempersiapkan untuk hidup berdua, atau bertiga, atau bersembilan, kalau anak saya nanti banyak.
Saya, merasa, dengan apa yang saat ini saya miliki, tidak akan membahagiakan kamu.
Saya berpikir, dengan apa yang saya miliki, saya tidak setara dengan kamu.
Jauh di dalam hati saya, saya ingin mengejar kamu, menjadikan kamu kepunyaan saya.
Tapi logika saya berkata, saya perlu setara dulu dengan kamu.
Setara dalam arti saya mandiri, secara finansial, punya persiapan untuk hidup berdua atau lebih, ada aset, dan sebagainya, dan seterusnya.
Standar manusia lajang yang ingin berubah menjadi ganda campuran.


Berangkat dari itu,
saya mulai mencari sesuatu yang berpenghasilan lebih besar.
Mempersiapkan hidup finansial secara lebih mapan. Menabung, itu yang penting.
Berinvestasi, kali ini bukan pada playstation dan telepon umum, tapi pada beberapa hal yang disarankan ekonom-ekonom terpandang.
Saya, membangun hidup saya, mulai dari goresan pertama lagi. Tujuannya satu, kamu.
Nanti kalau ada kesempatan kita bertemu lagi.


Tapi takdir itu lucu, saya pulang lagi ke sana pada saat Lebaran,
dan tidak menemukan kamu dimanapun.
Saya mencari, saya menunggu, dan tetap tidak ada kamu.
Saya pulang ke rumah, hanya jika ibu saya sudah menelefon terus, menyuruh pulang mandi dan sebagainya. Saya bertingkah bengal.
Seperti remaja tujuh belasan tahun yang kasmaran pada gadis sekolah lain.


Saya menunggui kamu.
Dan kamu tidak ada.



Kamu, dimana?


--

marriage


Two souls with but a single thought. Two hearts that beat as one .
- Friedrich Halm -


--

Jika suatu hari,
bocah kecil kalian bertanya, bagaimana ayah dan ibunya bertemu,
ajaklah ia ke pondokku, mungkin berada di tepi danau atau di antara padang ilalang yang hanya muncul saat petang.
Aku akan mendongengkannya.
Kisah indah kalian. Kisah perjalanan panjang kalian. smile


Aku juga akan menceritakan kisah panjang kita. Perjalanan-perjalanan dan tentang doa-doa yang menjelma.
Juga tentang tawa kita.

Ah, mungkin, akan kuselipkan juga tentang tangis kita, bolehkah?
Hanya biar ia tahu, bahwa kelak, air mata akan menyirami kelopak-kelopak harapan, menjelmakannya menjadi bahagia.
Dan, akan mengekal dalam bingkai kenangan; yang tak akan pernah beranjak dalam sudut paling teraman kapsul waktu--kotak bahagia kita--yang tak akan kita lupakan, meskipun usia dan senja telah saling menyapa.


Semoga. smile



;
Selamat menempuh hidup baru,
untuk kamu,
sahabat sedari dulu .



--






Day 152


“Of all sad words of tongue or pen, the saddest are these, 'It might have been.” - John Greenleaf Whittier, Maud Muller - Pamphlet -

---
Di sekitaran hari ini, sepuluh tahun silam,
ada saya yang duduk di sofa hitam, menenggelamkan kepala dalam tangan.
Ada nona pipi merah, atau Isabell,
yang berdiri di depan saya, mengenakan gaun pendek berwarna hijau.
Ada benci yang terbaca dari gerak dan kata kata yang menguar di udara,
penuh di ruangan, sesak.
Malam itu, ada cincin perak yang dilempar ke dada saya.

Setengah jam lebih dia berdiri,
mondar mandir, berhenti,
menunjuk saya, duduk, berdiri lagi.
Dari mulai riasan wajah yang rapi, sampai terlihat hitam luntur di sekitar mata.
Dan saya cuma bisa duduk mendengar, mengulurkan tangan.
Tidak bicara, tidak lagi membujuk, tidak lagi berusaha meyakinkan.

Meyakinkan, bahwa saya tidak sedang membeli dia dengan cincin perak,
yang dikenakan dengan manis di jarinya selama hampir sebelas bulan,
bahwa saya tidak sedang menggunakan alasan-alasan lain untuk membuat dia sayang kepada saya,
bahwa saya tidak sedang merantai dia, dekat dengan saya.
Saya tidak lagi bisa mengutarakan kata apapun.

Saya hanya diam,
setali tiga uang,
sama halnya dengan Dandelion,
saya diam saja,
memperhatikan.

Saat itu, kondisinya, saya sayang setengah mati,
saya cuma ingin apa yang dia ingin jadi nyata.
Saya berusaha menunaikan tugas saya sebagai lelakinya sampai habis tenaga,
demi membangun apa yang menjadi impian dia,
atau apa yang saya kira, impian dia.

Sekitaran hari ini, malam nanti,
saya akan sibuk mencari cincin perak itu di lantai kamar kami,
maksud saya, lantai kamar saya.
Karena kami sudah selesai pada saat cincin dilempar,
dan saya katakan, saya turuti apa yang jadi kemauan dia,
saya ikuti,
demikian sepertinya.

Lalu paginya saya akan bangun seperti hari biasa,
hanya saja lebih mendung di atas kepala saya.
Saya akan merokok seperti biasa, atau lebih banyak satu dua batang,
saya bernafas seperti biasa, hanya kadang lebih banyak nafas panjang.

Dua bulan setelahnya, saya akan berdiri di jembatan Soekarno Hatta,
yang dibawahnya ramai roda empat,
yang didepannya, tanpa diduga, ternyata, dulu pernah tinggal Merah Muda.

Saya turun di rumah sakit itu,
menyusur trotoar dengan jalan kaki,
berdiri di tengah jembatan, yang disebelahnya sedang dibangun hotel berbintang.
Berdiri dan mematung.
Mengambil cincin dari saku celana,
memutar-mutarnya sebentar,
tersenyum tipis,
dan melepas ke bawah.
Mengucapkan selamat tinggal.

Apapun yang sudah terjadi diantara kami berdua,
yang saya paksakan di sepuluh tahun belakangan,
atau yang sepenuh hati kami jalani berdua di dua bulan awal,
adalah hal yang saya syukuri.

Dan yang saya harap ke depan,
adalah kamu, nona pipi merah,
meraih apa yang menjadi mimpi kamu,
mencapai apa yang menjadi harapan kamu,
bersama dengan orang yang sesuai dengan keinginan kamu,
dan bahagia.
Saya amini itu, untuk kamu,
dan masa lalu saya.






half past memories


“May your coming year be filled with magic and dreams and good madness.
I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you're wonderful, and don't forget to make some art -- write or draw or build or sing or live as only you can.
And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself.”
- Neil Gaiman -



---


13 Februari 2003

Ada rencana yang saya susun untuk Isabell, si nona pipi merah,
rencana yang sudah rapi saya siapkan beberapa hari lalu.
Saya seharian cengar cengir kegirangan, walau saya harus rela kesana kemari,
masuk ke tempat yang sangat perempuan ... melelahkan.
Saya mau culik dia besok seharian.
Malam ini tidur, besok kami akan berkelana, menuju tempat yang katanya adalah tempat yang paling dingin di Bandung. Belum saya buktikan memang, masih sebatas katanya.
Saya sudah siapkan sebatang coklat, demi selayaknya hari istimewa yang identik dengan coklat.
Satu gelang tangan perak, ada dua belas burung kecil yang terikat disana, dua belas, tanggal dia.
Semoga besok lancar, hujan juga tidak apa-apa, asal petir tidak besar.
Dia tidak suka petir.


13 Februari 2007

Hari ini saya bangun kesiangan, menyongsong hari dengan semangat setengah-setengah.
Saya sudah berapa lama ya tidak bertemu si nona pipi merah itu?
Berapa minggu?
Masih rindu, kalau mau jujur.
Cuma sebatas itu, tidak akan beralih kemana-mana.
semua sudah selesai bukan?
Hari ini saya hanya ingin pekerjaan saya lancar. Tugas diselesaikan dengan baik.
Lalu tanpa diduga, malam akan datang, besok hanya hari yang bisa dilewati dengan hitungan dua puluh empat.
Sekecil itu.


13 Februari 2008

Kesayangan saya, Gail - Ayudya, hari ini kelihatannya lagi senang.
seharian bersenandung di telepon, menyanyi kecil, seperti yang biasa dia lakukan tanpa sadar.
Saya tadi membangunkan dia, tepat di 7.15 pagi, seperti instruksi komandan perang.
Ada perasaan senang luar biasa, mengetahui bahwa yang kita sayang baik-baik saja,
sehat, bahagia, makan cukup, tidur cukup.
Untuk saya itu berkah. Yang saya hitung pertama setiap hari.
Sejauh ini saya dari dia, harus saya apakan hari istimewa itu besok?
bahkan untuk mengulurkan sebatang coklat saja tangan saya tidak bisa merentang cukup jauh.
Mungkin tidak apa-apa, yang penting saya hari ini harus bisa buat dia tertawa.
Akan saya baca situs lucu non porno dengan semangat, cari bahan ...
Saya tidak akan main Playstation dulu, demi dedikasi waktu lebih bersama Gail.
Baiklah, semangat jendral!


13 Februari 2012

Saya tidak makan, bukan karena malas, tapi karena panas, demam.
Ada beberapa hal yang dikemudian hari ingin saya katakan kepada nantinya dia yang akan hidup bersama dengan Gail, kesayangan saya,
Satu. Bahwa dia suka suara petir, makin besar, dia akan makin senang.
Sepele, tapi bisa membuat dia kegirangan, seperti anak kecil, tertawa kecil seperti punya banyak permen di kantong.
Dua. Jangan biarkan dia terlambat makan, sesedikit apapun, usahakan supaya dia makan tepat waktu, karena nanti maagnya bisa kambuh, dan kita tidak ingin dia sakit bukan?
Tiga. Selama ini, di sore hari, dia selalu bangun 16.15, bangunkan kalau bisa. Telepon sekali di jam empat, lalu sekali lagi di empat lebih lima belas. Jangan terlalu menghayati suara bangun tidur dia yang mampu membuat kita merasa mendengar dawai surga ...
Empat. Dia suka makan manis. dan membuat sesuatu yang manis. Makan saja. Walau rasanya manis.
Lima. Dia suka menulis, encourage her.. She is talented.
Enam. Ukuran kakinya 21.5 cm. ingat itu terus. terutama kalau ada sepatu yang mungkin dia suka.
Tujuh. Walau nantinya setelah lima puluh enam tahun, dia akan agak gendut, sayangi dia seperti awal kalian bertemu. Jangan berubah. Dia sudah tumbuh dari perempuan muda, menjadi ibu yang cantik luar biasa pasti saat itu.
Delapan. Dia bisa jadi terlihat tegar, kuat dan super. tapi jauh didalam, dia gampang trenyuh. Jangan biarkan dia marah atau sakit hati ... nanti dia bisa nangis.
Sembilan. Dia suka diajak bercanda tentang kaos bergambar naga, koko dan mei-mei, karaoke lagu Jim Brickman, dan kontak lens warna warni yang dipadu sempurna dengan rambut ala bule cat sendiri ...
Sepuluh. Ini final. Jauh didalam, dia tidak perlu apapun darimu. Cuma sayang yang tulus, dan konstan, atau makin dalam.
jangan curangi, jangan khianati, lebih lagi, jangan bohongi :) , oh iya, mungkin, dia juga suka mawar.


Berdiri di posisi saya saat ini,
melihat ke belakang,
saya hanya ingin, melihat kalian berdua bahagia ..
sungguh ..






the rainspot


Di matamu, hujan merinai membawa surat cinta kepada pengembara-pengembara yang dahaga.
Sedang di depan kita jalan lenggang memanjang, dengan tebing bertubi-tubi menusuk letih.
Sepi dan sunyi saling berbisik.
Tapi kau, menyulang puisi menjadi warna keemasan ladang gandum dan hijau gemulai sawah dan juga bening telaga.
Demikianlah kau menyiasati alam ke dadamu,
menjadi legenda tentang lelaki yang selama ini menangisi hujan.

Lantas hujan semakin resah menuntut dirimu utuh.
Meruahkan badai kecil, hingga mimpi-mimpi terburai seperti musim-musim yang tak lagi memeluk takdir.
Kau menggerakkan langkahmu.
Berlompatan dalam tarian yang iramanya kau lipat dengan hati-hati sebagai ingatan akan cinta dan senja.
Menjadi geriap yang membasuh titik-titik waktu di helai rambutmu.
Demikianlah kau melukis pelangi,
diantara tetesan hujan yang melekuki doa yang tak lelah kau berangkatkan untukku.

Karena di matamu, hujan merinai seperti tanda cinta semesta kepada jiwanya.
begitu tulus ..
begitu sederhana ..




the stone



tangan merentang jauh,
seperti hendak meniti .
jejak-jejak lusuh,
begitu tinggalkan sepi .

adakah sebuah kembang tua
terselip di saku hatimu ?

Isabell,
aku memanggil namamu,

dengan cinta yang begitu ingin ..
memantulkan beribu-ribu rindu,
dari dada sekokoh batu ..





a hiding place



kalau akan ada yang kurindukan; ialah lingkaranmu yang menautkan dunia kecilku dengan ujung warna senja,
pada sore-sore kita yang selalu disapa oleh derai lambaian.
kau akan masih saja seperti yang kuingat selalu,
berputar-putar setelah menitipkan kerlip cahaya di lekuk lenganku.
seperti kunang-kunang di matamu, kau selalu berseru, sebelum berhamburan dalam tawa.
Isabell.

ah, bukankah malam masih belum menggelar orkestra bintang-bintangnya?
Tuan jangkrik, nyonya kodok, pangeran ngengat dan putri tikus tanah masih sibuk berdandan sebelum kau munculkan mereka dalam ceritamu yang senantiasa diawali dengan : suatu saat nanti..

seperti itu pula kau percaya dedaunan dan bebungaan akan menjadi dongeng peri-peri dan bajak laut.
suatu saat nanti.

seperti itu pula kau percaya setiap tangkai padi yang menghampari tarianmu, adalah nada yang seperti jazz, juga blues, sesekali opera.

hanya hati yang percaya, yang dapat merayakan pertemuan senja dan malam,
demikian selalu kidungmu sebelum sampai pada ritual percakapan kita.

kalau akan ada yang kurindukan; ialah sujudku pada musim-musim yang bergerak memutarimu, seperti putaran heningmu yang melingkupi seluruhku.
menjadi damaiku, bahkan dalam diammu..

kalau akan ada yang kurindukan; ialah diriku, yang lenyap di dalammu.




7 o'clock for Isabell


Ingatan atasmu adalah benang laba-laba,
sarang yang tak pernah selesai,
merajut diri sendiri,
tapi juga tak pernah bisa habis kubersihkan.

-Hasan Aspahani, ingatan-

--

Isabell..
Hari ini saya mengingat kamu,
bertanya-tanya, apakah kamu masih sanggup bertahan sendirian disana.
Ketahuilah Isabell..
Bahwa saya sudah memaafkan kamu.
bahkan sudah saya lakukan,
jauh sejak surat perpisahan yang kamu buat,
selesai saya baca dengan penuh ketidakmengertian ..





Isabell #3




Pada saat seperti ini ijinkanlah aku mempertanyakan,

di mana kamu letakkan aku?
adakah aku seberharga cincin yang melingkar manis di jarimu,
ataukah aku senyaman sepatu tuamu yang tak terasa lagi bila dipakai?
akankah kau pertahankan aku selayaknya nyawamu sendiri,
ataukah namaku hanya melintas seilas di detik-detikt terakhirmu,
untuk kemudian menyublim seperti arwah tersedot surga.
Mengertikah kini, Puteri ?
Karena itulah aku ingin hidup nyata.


taken from :
True Dee - Supernova, Ksatria, Puteri, dan Bintang jatuh







Dear you, Isabell


---

Jadi di sanalah kita, bertahun-tahun yang lalu.
Malam yang sepi, dimana laki-laki yang mencintaimu tertidur di kamar kostmu.
Dan perempuan yang kucintai berada ribuan mil dari sini.
Di sanalah kita berdua.
Setelah lama tak bersua.
Tertawa seperti dulu, mengobati rindu.


Ya. Aku rindu padamu.
Pada teman perempuan yang biasa curhat padaku.
Merengek, mengeluh, mengomel, bahkan tersedu-sedu.
Dia, laki-laki itu, tak tahu apa saja yang kita bicarakan.
Pernah ada yang bertanya, tapi kujawab dengan tertawa.


Untukmu, ada ribuan tanya berserak di kepala.

Bercampur puing harapan yang semakin runtuh perlahan.
Kalau sampai detik ini aku membisu, itu karena hatiku pilu.

Aku tak tahu bagaimana cara menyampaikan padamu.
Bahwa aku kecewa. Bahwa aku merasa sudah berharap terlalu muluk.
'Kenapa?' Tanya itu ingin kutulis besar-besar dan kusodorkan padamu.
'Jangan terlalu kejam' adalah kalimat kedua yang ingin kutorehkan di telapak tanganmu,
agar gemanya memantul ke tujuh penjuru hatimu.



Aku tidak bermaksud menghakimi siapa-siapa.
Karena kamu benar, aku tidak tahu apa-apa.
Yang kutahu ada sebuah lingkaran,
yang hanya bisa terbentuk oleh empat pasang tangan yang saling menggenggam.

Kita pernah menggambarnya bukan?
Dalam angan, dengan empat tokoh bernama konyol dalam catatan.
Masihkah kamu ingat mereka?





---

Bertahun-tahun lalu itu, kita pernah bercakap tentang cinta, dan hidup itu sendiri.
Aku masih menasehatimu, sedang kamu, masih saja membesarkan hatiku.


Tapi tetap saja itu benar.

Bahwa aku tidak akan pernah tahu apa-apa ..
Entah kisah ini akan berakhir bagaimana,
tapi aku selalu menginginkan,
lingkaran itu tetap sempurna.



dear me ;
untuk seorang Isabell .





Isabell #2


1.
Aku terus mengenang. Sepanjang abad perpisahan tak terelakkan.
Isabell, aku bertanya-tanya, benarkah kita pernah berjumpa?
Aku mau tanyakan satu hal padamu.
Sebelum rinduku jadi abu.
Nyatakah perasaanmu padaku?

Aku terus diganggu ilusi, padahal melangkah sendiri.
Yakin kau tak peduli dan berlabuh di dermaga lain.
Dayungmu membatu, tak akan menerjang badai dan bercumbu dengan ombakku lagi.
Isabell, seabad yang lalu melahirkan sesalku.

2.
Bukankah sudah kuperingatkan, wahai hati.
Usah lagi kau hadiri dia.

Aku rindu perjumpaan, di hari-hari panas penuh tawa.
Lalu derai airmata melepas perasaan yang terjalin pada cinta.
Aku cinta sendiri. Aku rindu sendiri.
Berharap kau juga hadiri aku meski cuma dalam mimpi.

Bukankah sudah kuperingatkan, wahai hati.
Lalu sakit ini mengapa abadi ?





Isabell #1



Aku akan menjelma burung.
Mengikuti petunjuk angin, terbang ke kotamu yang syahdu.
Bertengger di atap rumahmu yang kelabu oleh debu dan pahatan waktu.

Sudah kukatakan padamu, aku hanya punya waktu sebentar.
Sekedar mencari hujan yang lari sembunyi dari awan-awan di atas kotaku sendiri.
Dan jika tak kutemukan juga hujan itu, akan kucari lelehan embun di atas rumpun bunga pagi sore di depan pintu.

Sesungguhnya aku juga rindu padamu.
Ingin bercakap-cakap denganmu seperti dulu.

Tak bisa?
Baiklah. Tak apa.
Toh kita tidak akan kembali seperti dulu. Sudah pernah kita bangun surga dalam berjam-jam pertemuan dan percakapan, bermeter-meter pesan pendek, dari ratus mil jarak yang merentang.
Dan semua itu sudah berlalu terkubur waktu.

Aku dan kamu kini hanya bayang-bayang yang tertinggal di dimensi waktu. Dan pesan-pesan tentang sepi, rindu dan airmata itu, pada akhirnya akan seperti goresan purba di gua-gua batu, dan hutan-hutan tua yang pernah dijelajahi oleh masa.


;
Tentu saja tak ada lagi cinta buat kamu.
Yang ada, cuma kenangan.