" Hearts may break, but
hearts are the toughest of muscles, able to pump for a lifetime,
seventy times a minute, and scarcely falter along the way.
Even dreams, the most delicate and intangible of things, can prove
remarkable difficult to kill "
-Neil Gaiman, fragile things -
-Neil Gaiman, fragile things -
--
Little did you know,
bahwa saya sekarang tinggal di tempat yang katanya metropolis.
Tempat yang sesak dan berjejal orang datang dan pergi untuk mencari nafkah, menyambung hidup, menjadi tulang punggung, mencicip keberhasilan, menjadi kaya, menjadi terkenal, berhasil, gagal, datang, pulang.
Little did you know,
bahwa saya dalam usia yang sama dengan kamu sekarang, sudah berpindah waktu, dari umur satu ke umur lain.
Mencari jati diri? Mencari pengalaman? Mengaktualisasi diri?
Entah apa namanya, mungkin sekedar tidak betah, tidak bertahan, tidak capable dengan apa yang ada, tidak nyaman, atau sekedar tidak dihargai secara manusiawi.
Little did you know,
bahwa malam hari ketika sebagian besar manusia selayaknya tidur, saya berkutat dengan buku yang saya baca, dan berusaha menuntaskannya.
Bukan karena penasaran. Bukan karena sangat menarik.
Sekedar memang susah tidur. Terlalu banyak kopi? kurang air putih, siklus tidur yang sudah berantakan sejak setahun dua tahun, tiga tahun?
Mana saya tahu.
Yang saya tahu adalah, sekeliling tempat saya itu senyap sekali sekitar jam dua malam.
Lampu ruang tengah pasti gelap total.
Penghuni kamar depan saya sekalipun tidak pernah pergi kencing tengah malam.
Dan memang pintu kasa ini yang bisa menghambat nyamuk, yang liarnya dimulai ketika semua jadi gelap.
Little did i know,
bahwa kamu masih semenarik dulu.
Setidaknya seingat saya sebagai anak SD.
Rambut kamu sekarang panjang. Berjuntai dengan sedikit gelombang di ujung-ujung bawahnya.
Pintarnya kamu, saya masih tidak ragu. Bawelnya kamu saya sekarang tidak tahu.
Kamu yang dulu,
itu yang saya tahu.
Little did i know,
bahwa jejaring sosial memang ada gunanya soal bertemu teman lama, cinta lama, taksiran lama, apapun yang lama, karena disana nyatanya, pertama kali sejak tahun 1996 kita bersinggungan dalam berita.
Little did i know,
bahwa nyali saya yang cukup kecil, yang saya tumpuk-tumpuk sedikit demi sedikit, lalu saya habiskan semua untuk mengirimi kamu pesan dalam jejaring itu ternyata membuahkan hasil.
Sebaris angka dan huruf kini tercantum di ponsel saya,
sebagai perwakilan dari kehadiran kamu di hidup masa kini saya.
Little did i know,
ciuman kecil di pipi selepas acara perpisahan SD itu masih berkesan untuk saya.
Dan akhirnya itu dibicarakan, dalam gurauan pastinya.
Tentang kamu, dan saya, yang masih dalam seragam merah putih.
Bicara tentang kita yang dulu, saya bisa.
Memulai bicara dengan kamu di masa kini, itu yang saya bingung.
Harus dimulai dari alfabet apa?
Little did you know,
bahwa untuk saya, kamu masih jadi "yang dipuja"
taksiran lama, di era baru.
Dalam skala satu sampai sepuluh, saya masih naksir kamu di angka delapan.
Kurang lebih sama, seperti 1996 lalu .
--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar