reborn



Hari ke delapan belas,
menghitung mundur dari apa yang sudah saya lontarkan di hadapan Allah.
Tuhan, atas segala takdir saya.
Tuhan, yang dengan Maha Baiknya telah memberikan saya berkah di tahun ini.
Dan betapa saya bersyukur karenanya.


Jam merujuk angka dua belas kurang tiga menit malam itu.
Detik demi detik saya tunggu.
Sesekali tenggorokan ini 'dipaksa' menelan liur.
Bukan apa, sekedar memastikan, bahwa saya sedang tidak melewatkan moment manis di pergantian umur saya yang semakin menua.


Alarm berbunyi,
yang dinanti pun tiba.
pertanda tanggal sepuluh sudah dimulai.
genap 26 tahun, saya dihadirkan dari rahim ibu saya.
26 tahun sudah, saya dinobatkan sebagai hadiah keluarga saya.
buah hati mereka, itu katanya.
bicara saya, maka bicara 26 tahun saya disini.
26 tahun, ditempa untuk menjadi laki-laki.
yang sayangnya, kadang masih cengeng.
masih manja.
terlalu menganggap enteng.
bahkan sering memakai cara klasik untuk bicara :
" nanti saja, biar waktu yang menentukan "
atau,
" biar ajalah, tunggu yang lain.. "
ini yang lebih sering,
" katanya Allah itu sayang sama kita, jadi terserahlah.. mau di gimana-gimanain juga, toh udah ada yang atur kan? "


See, kadang saya berpikir, betapa saya begitu mudahnya pasrah tanpa berusaha.
pantas, bila kadang saya merasa gagal dan terpuruk.
Sedih, dan merasa unworthed bagi siapapun yang kenal baik dengan saya.
Sampai malam itu,
saya memutuskan untuk mengambil air wudhu.
sebagai manusia yang mencoba menjadi "muslim" yang baik, lantas saya shalat dua rakaat.
Ada kesan tersendiri disana.
Karena entah darimana datangnya, saya seolah seperti berdialog langsung dengan si empunya waktu, Allah, Tuhan pencipta saya.
Layaknya anak kecil yang bercerita tentang apa yang dialami di sekolah seharian itu, saya resapi ayat per ayat.
kalimat per kalimat.
Tergetarlah hati saya.


Singkat cerita, saya bersedih.
Bohong besar bila saya tidak mengakui bahwa saya tidak menangis disana.
*well, sometimes tears itu bagus kok untuk nyuci mata*
Ya,
tiba-tiba meneteslah airmata saya.
walau tidak tahu, sudah berapa pasang airmata saya gunakan tahun ini.
untuk menutupi keterlambatan saya.
hari-hari saya yang bolong.
kegagalan saya.
ketidakberdayaan saya menghadapi sesuatu.

Tapi inilah saya,
yang melewatkan sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya dengan belajar.
Terdengar aneh dan tabu memang, jikalau saya bilang saya telah mengambil banyak pelajaran dari bening mata.
Apa mau dikata, begitulah faktanya..
ain't experience makes people grow?

Jadi, begitulah saya malam itu.
diantara puluhan sms yang melayang-layang di satelit provider lokal.
diantara sekumpulan populasi manusia, yang dikenal sebagai sahabat dekat, yang terus menerus secara kontinyu melayangkan satu dua doa agar saya lebih baik lagi.
Walau jujur, saya tidak serta merta menjawabnya dengan mengamini doa-doa itu.
Karena diatas lantai, saya masih bertelut dihadapan Tuhan.
Mengucap doa.
Menyelipkan keinginan-keinginan terbaik, yang diyakini akan datang bila tepat waktunya.
Menyebut satu dua nama, yang saya tahu masih mencintai, dan dicintai oleh saya.



Happy birthday kuy..
maaf, untuk orang-orang yang tidak sempat berdoa di hari itu.
mungkin mereka terlau sibuk, dan lupa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar