What we have once enjoyed we can never lose. All that we love deeply becomes a part of us.
- Hellen Keller -
---
Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca, entah dimana.
Katanya, jika kita ingin tahu siapa diri kita sesungguhnya .. Maka lihatlah karib kita.
Mungkin ini ada benarnya, karena manusia bisa diukur oleh siapa yang mereka pilih untuk ada dalam hidup mereka.
Dulu saya getir.
Entah mulai kapan, saya juga tidak tahu.
Lalu disitulah saya, mencari manusia lain yang hidupnya sama getirnya dengan saya.
Yang melihat dunia dengan kacamata yang sama, yang berpikir dengan sama skeptiknya, yang sama pahitnya.
Mungkin saya hanya tidak mau merasa sendiri dalam ketidakpuasan saya dalam hidup,
mungkin juga saya mencari teman senasib-sepenanggungan supaya saya punya justifikasi atas pilihan-pilihan yang saya buat.
Atau mungkin saya hanya merasa berbeda, karena tidak pernah mampu melihat dunia dari sisi merah jambu.
Ya, saya pernah puas.
Dengan setiap orang yang saya pilih, dengan pemikiran saya yang luar biasa apatisnya.
Satu persatu, bata saya susun menjadi tembok kokoh berwarna abu-abu.
Ini saya, menentang dunia.
Ini saya, menghujat segala sesuatu yang berbau dongeng dan bahagia.
Tapi tahukah kalian, bahwa apa yang nyaman itu kadang menyesatkan?
Saya begitu terkungkung dengan dunia yang saya ciptakan, sampai saya merasa bahwa saya nyaman dengan keadaan seperti itu.
Keadaan dimana saya merasa saya tidak butuh bahagia.
Bahwa saya tidak pantas untuk bahagia.
Keadaan dimana saya merasa, bahwa saya harus terus menerus menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih sukses, dan lebih pintar hanya karena saya tidak mau dihina oleh dunia.
Saya pernah begitu pahit memandang segalanya.
Saya pernah jadi hitam, sampai akhirnya saya bertemu dia.
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa saya jatuh cinta pada dia.
Karena ini bukan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi jujur, saya kagum luarbiasa kali pertama mengenal sosoknya.
Saya kagum luarbiasa, karena saya bahkan tidak punya celah untuk tahu, bagaimana bisa dia mempertahankan keyakinannya sekalipun dia memiliki seribu satu alasan untuk marah pada Tuhan?
Saya tidak bisa mengerti, mengapa dia masih sanggup melihat hal-hal baik dalam diri manusia, bahkan ketika dia dikhianati dunia.
Dan dengan orang seperti itu, katakan .. bagaimana tidak kamu jatuh cinta?
Its been seven years since we are together,
And what's amazing is .. Setiap hari, dia mengajari saya sesuatu yang baru.
Dia pernah mengajari saya, bahwa katanya dunia itu sebenarnya indah, orang-orang itu pada dasarnya baik.
And moreover, untuk mau melihat kedalam diri saya, kekurangan dan juga kelebihan saya ..
Tidak peduli, seberapa banyak saya gagal.
I think, that is the greatest gift one can give u :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar