the reason they don't listen


If you want 1 year of prosperity, grow grain.
If you want 10 years of prosperity, grow trees. If you want 100 years of prosperity, grow people.
- Chinese proverb -




--

Bicara satu ditambah satu yang katanya dua,
saya pesimis tentang kepastiannya.
Karena satu ditambah satu di hukum keluarga saya berarti lima.
Lima yang bersama, lima yang setia.
Lain hal, lain matematikanya, kalau dihitung dengan tangan keluarga lain,
tentunya.

Katanya kasih itu hadir dalam setiap bentuk hati yang terketuk,
maka demikianlah saya fasih memahami kamu,
teman semasa SMP saya,
sekarang jadi nona muda, putri satu satunya,
yang hilang mencari bahagia di luar sana.
Surat ini untuk kamu,
anak kecil yang bernama malaikat.

Apa rasanya pulang ke kampung halaman, mengunjungi kenalan lama,
termasuk mama kamu salah satunya,
memberitakan bahwa kamu, anak satu satunya,
terdampar di hidup yang mama kamu tidak tahu bentuknya seperti apa?
Kamu, yang saya ceritakan ini,
samakah dengan kamu yang duduk tidak jinak di seberang meja,
belajar matematika, fisika, dan ilmu-ilmu pasti lainnya dengan saya,
dulu..

Kamu, yang bernama malaikat,
melihatkah bagaimana mama kamu, yang bergantian tersenyum dan menangis,
ketika berucap tentang kisah hidup kamu beberapa tahun ke belakang ini?
Tentang sorot mata yang mengobarkan rindu,
mengiriskan perih, menantikan kamu,
membaginya kepada saya yang masih heran dan heran.
Apa yang saya dengar tadi,
betulkah itu cerita tentang kamu?

Kamu yang dulu bertemu saya terakhir masih dalam seragam putih biru,
kamu yang selalu merajuk ketika matematika menjadi dasar dari semua permainan kecil kita,
kamu yang.. ah .. itu dulu ya?
Yang harusnya saya tahu adalah kamu yang kini.
Kamu yang ada di konteks masa sekarang.
Kamu yang dulu sudah musnah dihabisi apa yang namanya 'ke-aku-an anak muda'
begitu bukan?

Saya mungkin bukan orang yang paling tepat untuk memberi nasehat, wejangan, atau apapun kepada kamu.
Karena saya hitam,
saya sedang menyukai satu manusia dengan awalan nona, bukan tuan sebagaimana digariskan norma.
Saya tukang tipu yang sedang berdebat dan bertobat,
dan saya yang tidak seberapa ini mengkuatirkan kamu.
Sebagaimana layaknya saya mengkuatirkan adik sedarah saya.

Teruntuk kamu yang bergaris nama malaikat,
cari jalan pulang ya,
mama kamu menunggu di tepian pintu,
menantikan kamu,
pulang.

tertanda,
teman SMP, yang dulu sering kamu pinjami diktat pemantapan :)


--







Tidak ada komentar:

Posting Komentar